Selasa, 26 April 2011

Serpihan Negara Islam (Darul Islam)


SERPIHAN DARUL ISLAM


ABDULLAH SUNGKAR
Kiai Abdullah Sungkar, mempunyai ciri khas yang hingga kini masih melekat di ubun-ubun bekas para santri dan pengikutnya. la pantang mengatakan benar, bila apa yang dilihatnya salah. Pemerintahan Soeharto, acap kali dibuat kalang kabut dengan pernyataan-pernyataannya yang dinilai banyak kalangan, terlalu keras dan ekstrem.

SUATU hari, subuh. Di mesjid kecil, sisi Timur kompleks Kusumoyudan, kampus Universitas Tjokroaminoto, Jl. Asrama No.22, Surakarta, seorang ustad berapi-api, menghangatkan suasana subuh yang hanya dihadiri tak lebih 8 orang. "Memang dimulai dari sedikit, lama-lama akan menjadi banyak," kata sang ustad, menggembirakan pengurus mesjid yang berkali-kali minta maaf atas sepinya peserta kuliah subuh itu.


Pada kali yang lain, bersama istri dan anaknya, sang ustad pagi-pagi sudah sampai di panti anak-anak tuna netra. Ke sana, sang ustad membawa lontong untuk dimakan bersama-sama dengan penderita tuna netra itu, sambil mendengarkan ceramah yang juga disampaikannya dengan berapi-api. Entah sudah berapa kali, ustad ini tetap menyalakan api khotbahnya pada keadaan apa pun, sepi atau ramai, dilihat orang atau tidak. Dialah K.H. Abdullah Sungkar, tokoh NII yang mempunyai perawakan tegap, berkulit putih, bersih. Kata-katanya selalu memompakan semangat yang tak mengenal aroma basa-basi dalam setiap hujah ceramahnya.


Ceramah-ceramah Abdullah Sungkar dinilai banyak kalangan bernada keras dan membahayakan. la tak pernah ragu mengkritik pemerintah di saat banyak orang  tak lagi berani bersuara. Bagi Sungkar, berkata benar adalah keniscayaan, sekalipun harus dibayarnya dengan sering keluar masuk tahanan. Itu sebabnya setiap berkhotbah, tak hanya pengikutnya yang hadir tetapi para intel gelap juga tak pernah ketinggalan.


Karena itu, nama Abdullah Sungkar senantiasa tercatat paling atas sebagai tokoh ekstrem kanan yang harus diberangus dan diringkus. Tak aneh bila ia tiba-tiba menghilang dan berkucing-kucingan dengan aparat.
Bersama Abu Bakar Ba'syir, ia mendirikan Pesantren Al-Mukimin di Solo Selatan, pada awal 1973. Pesantren ini dilengkapi dengan pendidikan sekolah umum dan sebuah studio Radio Dakwah Islam (Radis). Pesantrennya maju pesat, begitu juga dengan radionya. Inilah pesantren Ngruki yang pernah berjaya di tengah sempitnya Abdullah Sungkar memperjuangkan keyakinannya. Pada suatu hari, ketika rencana penangkapan Abdullah Sungkar dilakukan di Pesantren Ngruki. Sejumlah petugas sudah berjaga-jaga di sekeliling pondok. Sebagian lain memasuki pondok untuk menggerebek dan menangkap Kiai Sungkar. Konon, dengan mengenakan kain.sarung dan dibonceng sepeda motor, Abdullah Sungkar keluar melalui pintu gerbang pondok yang dijaga ketat petugas keamanan. la keluar Pondok Ngruki, kemudian dengan naik bus langsung ke Jakarta. Itulah hari terakhimya di Surakarta, hari terakhir di Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki yang dibangunnya. Suatu pelarian yang fantastis. Di sebuah tempat di Malaysia, ia bercerita kepada penulis bahwa di saku kemejanya hanya ada uang Rp 10.000,00. Dengan bekal Rp 10.000,00 itulah ia berangkat ke Jakarta, kemudian ke Pakanbaru (Riau) dan menyeberang hingga ke Malaysia. Ada juga versi cerita yang lain. Sebelum ke Malaysia, Abdullah Sungkar disembunyikan oleh "Kelompok Condet", yaitu kelompok pengajian yang dibinanya atau yang berada di bawah pengaruhnya. Mereka adalah kader-kader muda pelanjut estafet perjuangan Negara Islam Indonesia. Tokoh-tokohnya, antara lain Aus Hidayat, Ibnu Thoyyib, Haryono, Dodi Achmad Busubul, Mukhliansyah, dan Nurhidayat. Nama terakhir ini pada tahun 1988 disetujui sebagai "Imam Musafir" yang berencana membangun poros Jakarta-Cihideung, Talangsari. Teman-teman Imam Musafir itu, antara lain Sudarsono, Fauzi Isnan, Sukardi, Maulana Latif, Alex, dan Joko yang kesemuanya berhubungan kerja untuk membangun "basis perjuangan" di atas konsep "perkampungan Islam" Warsidi di Cihideung, Talangsari, Lampung. Di Malaysia, Abdullah Sungkar mula-mula memilih tempat persembunyian yang jauh dari kota besar. Nyaris di pedalaman dan tidak banyak yang tahu. la kemudian disusul oleh 'sahabatnya' pendiri Pondok Pesantren Al-Mukmin, yaitu Abu Bakar Ba'asyir, sama-sama menyembunyikan diri di antara petani di pedalaman Malaysia itu. Tidaklah gampang mencari jejak para pelarian politik yang bersembunyi di negara asing. Di negara itu, mereka mendapat perlindungan penuh dari pemerintah setempat. Begitu juga dengan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Tetapi, melalui jasa-jasa baik A.Halim Abbas dan Helmi Al-Mascaty dari Jamaah Al-Arqam Malaysia, kedua orang Islam yang bersembunyi itu berhasil ditemukan penulis. Kami berangkat dengan sebuah mobil mewah berwarna hitam, dari Kuala Lumpur menuju ke Negeri. Sembilan. Melewati hutan lebat dan sejumlah perkampungan, sampailah kami di sebuah gubuk di tepi jalan kecil. Menjelang magrib ketika itu ada dua orang lelaki dengan jenggot dan kumis serta cambang yang sudah memutih, mendorong gerobak kecil berisi sejumlah alat pertanian ada dalam gerobak itu. Tak salah lagi, merekalah dua tokoh 'Ngruki' yang kami cari-cari itu. Abdullah Sungkar langsung menyampaikan kritiknya dengan menunjukkan ayat-ayat Alquran yang siap dibukanya seketika itu juga. "Saya hanya minta satu kepada pemerintah. Tolong berikan saya tempat, satu pulau kecil saja. Saya akan membina pemukiman Islam dan insya Allah akan menjadi contoh seperti apa Islam yang benar itu," katanya. la masih belum percaya ketika dikatakan bahwa pemerintah sudah 'berubah'. Semua tahanan ekstrem kiri dan kanan sudah dibebaskan oleh Pemerintah Habibie. la tetap tidak percaya. Beberapa hari dari pertemuan itu, kedua orang tersebut bergegas ke Airport. Masing-masing dengan kopornya. Mereka menyempatkan diri berfoto ria sebelum terbang menuju Arab Saudi.
Sejak itulah nama Abdullah Sungkar tak lagi banyak disebut orang. Pada awal tahun 2000, Sungkar diam-diam kembali ke Indonesia. Baru beberapa bulan tinggal di Bogor, Jawa Barat, ia menderita sakit dan meninggal dunia. Inna Lillahi wa inna Ilaihi raji'un.


Sumber tulisan : www.gegertalangsari.com

0 Komentar Anda: