Rabu, 27 April 2011

Menguah Negara Islam Indonesia / NII


GEGER TALANGSARI
Kronologi Gegeran

PERJALANAN waktu tak mampu dijangkau bahkan oleh Sukidi sekalipun. Pria setengah baya, Kepala Dusun Talangsari III, way Jepara, Lampung Tengah itu ketenangannya tiba-tiba terusik oleh tamu misterius. tamu tersebut datang bersama kelompoknya, tanpa assalamu 'alaikum kepada tuan rumah. Padahal mereka tidak sekadar bertamu, malah kemudian menetap. Merasa dilecehkan, Sukidi mengingatkan tamunya. Namun ia segera mendapat jawaban yang sama sekali tak ia mengerti. "Ini bumi Allah, hanya kepada Allah, kita menghormat", jawab sang tamu menggurui. Merasa dilecehkan, Sukidi mengingatkan tamunya. Namun, ia segera mendapat jawaban yang sama sekali tak ia mengerti. "Ini burni Allah, hanya kepada Allah, kita menghormat", jawab sang tamu menggurui. Belakangan Sukidi baru mengetahui bahwa tamu misterius itu, bernama War, Anwar, atau Warsidi alias Anwar Warsidi, seorang yang ditokohkan menjadi pemimpin kelompok pengajian bern"ama Jama'ah .Mujahiddin Fisabilillah.

Kelompok Kecil
Kelompok Warsidi di Talangsari punya kaitan historis dengan kelompok kecil yang ada di Jakarta Kabarnya, yang inembidani kelompok kecil Jakarta itu ialah Nurhidayat, Ahmad Fauzi, Wahidin, dan Sudarsono. ,Serpihan pemuda tanggung yang tengah menggebu belajar agama ini, hatinya tak tentram ketika melihat hukum di Indonesia tak lagi ditegakkan berdasar Islam.
Mereka merasakan ada kezaliman yang telah merusak bangsa dai1 negaranya. Oleh karena itu, hukum Islam harus ditegakkan. Caranya? Mula-mula harus merapikan barisan atau saf. Kemudian berjamaah, menggalang kekuatan hingga menjadi bangunan yang kokoh. Ibarat pohon yang akarnya menghujam ke bumi, tak mudah tercerabut oleh tiupan-tiupan angin besar atau kecil.
Dari jamaah tersebut, berkembanglah keinginan membuat perkampungan muslim, yang bebas dari campur tangan penguasa zalim. Di sanalah mereka akan tenang menjalankan perintah agama dengan baik. Inilah embrio terwujudnya mimpi besar, tegaknya Negara . Islam di Indonesia-tegaknya NII, yang senantiasa ingin. dihidup-hidupkan oleh pendukung serta simpatisannya. Untuk mewujudkan mimpinya, kelompok Jakarta ini memberlakukan doktrin tiga tahap. Pertama, mentakfirkan selain dia. Artinya, bagi yang tidak mengikuti hukum Allah, kafir. Termasuk ulama sekalipun, bila menghalangi mereka dalam menegakkan hukum Allah, halal darahnya. Kedua, menolak Pancasila sebagai azas. Alasanya, pemerintah dengan Pancasilanya telah menjauhkan umat dari perilaku Islam. Ketiga, puasa.selang-seling selama 40 hari, membaca wirid dan salat ma1am berjamaah supaya jiwanya siap menjadi syahid. Bagi yang lulus menyelesaikan doktrin tahap ini, berhak hijrah ke Lampung bergabung dengan Warsidi. Dari mereka, Ulama Jamaah Mujahiddin Fisabilillah lahir dari mereka pula peristiwa berdarah itu ditabur.

Warsidi Tak Terkendali
Setelah kelompok Jakarta bergabung, suara Warsidi makin nyaring. Masyarakat setempat menggambarkan, perilaku Anwar Warsidi dan kelompoknya semakin tak terkendali. Setiap khotbahnya selalu menyalakan api permusuhan, menentang pemerintah dan mencerca Pancasila. Pemerintah dikatakannya sebagai orang-orang kafir yang kerjanya cuma mengkorup uang rakyat. Oleh sebab itu, haram hukumnya memakan uang gaji dari pegawai negeri. Dengan sendirinya, juga tak perlu membayar pajak, apalagi wajib.
 Pemah Sukidi mengajak gotong-royong mengeras- kan jalan desa. " Qur 'an tak mengajarkan orang gotong-royong", jawab mereka segera. Ajakan siskamling pun mendapat jawaban serupa sehingga sangat tak di- mengerti banyak orang, termasuk alasan, mengapa mengambil tanaman penduduk tanpa izin. Sejak itu, masyarakat menjadi tak tenang. Hari-hari mereka dilalui dengan resah dan ketakutan, setelah sejumlah anak buah Warsidi mendatangi Sukidi dengan membawa-bawa golok dan pedang. Tanda-tanda perang mulai digelar. Sebagian penduduk, satu demi satu meninggalkan harta miliknya, mengungsi. Termasuk keluarga Sukidi sudah pindah ke dusun lain, menjauhkan diri dari tetor gerombolan. Melihat ini, Sukidi tak kuat. la segera melaporkannya kepada Amir Puspa Mega, Kepala Desa Rajabasa Lama, atasannya. Amir Puspa Mega bersama Sukidi kemudian melanjutkan ke Kecamatan Way Jepara, melaporkan tabiat Anwar Warsidi yang meresan banyak orang. Dari sinilah lolongan panjang gerombolan Warsidi mulai terdengar. Malah, gaungnya memecah langit hingga ke negeri seberang. Tangisan duka Talangsari mulai didengungkan. Malapetaka itu menyisakan duka, tidak saja bagi Warsidi dan pengikutnya, tetapi juga masyarakat desa yang tak berdosa, sampai kini.

* * *
KRONOLOGI GEGERAN
Episode :
GUGURNYA KAPTEN SOETIMAN
ADA gegeran di ladang penduduk. seseorang uring-uringan. Harta miliknya hilang. Serumpun bambu melayang. Pada suatu ketika di hari yang berbeda, terdengar lagi suara orang-orang kehilangan kelapa. Bukan omong kosong apalagi berita bohong, beberapa penduduk melapor, kali ini kehilangan singkong.
Kabar angin itu benar-benar sampai ke telinga Sukidi. Sebagai kepala dusun, dia tak bisa diam apalagi membisu. Sukidi menyelidik, membuka mata lebar-lebar dan juga telinganya. Diperoleh kabar, ada warga baru di rumah Jayus bertabiat tak lazim yang telah mengubah adat, boleh mengambil milik orang tanpa izin. Serangkaian kejadian aneh itulah awal drama Talangsari III dibeber.
Sang Kepala Dusun bertandang, menyelisik ke rumah Jayus. Benar, di sana sudah nongol muka-muka baru yang tak jelas usul dan asalnya. Ketika ditanya identitas, mereka mengelak. Anehnya mereka tidak memungkiri saat disinggung soal tanaman penduduk. "Ini burni Allah, semua orang berhak menikmati", celetuk salah seorang dari mereka. Celetukan itu temyata menjadi buah-bibir dan masalah, tidak hanya bagi aparat, tetapi juga masyarakat, bahkan sampai kini berkepanjangan.
Berikut ini urutan kejadian yang membawa petaka tersebut. Sengaja dituturkan secara rinci, agar bisa memberi gambaran yang pas tentang peristiwa yang dianggap menghebohkan bagi perjalanan politik di Indonesia itu. Data detail tuturan seperti ini ternyata masih belum banyak terkuak dan diketahui masyarakat luas, sehingga apa yang berkembang di masyarakat, seringkali berbeda dengan fakta yang sebenarnya.
Tuturan ini berdasarkan fakta dan data lapangan yang berhasil dihimpun langsung dari nara .sumber, baik berupa wawancara maupun dokumen asli.

* * *
KRONOLOGINYA
Rabu Wage,1l Januari 1989
  1. Sukidi dan Mansur mengirim surat kepada Amir Puspa Mega. Isinya: pada puku1 20.00 (malam Jumat), Jayus warga Cihideung menerima tamu dari Jakarta, sebanyak 15 orang, laki-laki dan perempuan.
  2. Tamu-tamu tersebut hendak mengadakan pengajian hari Jumat dipimpin seorang kiai bernama Pak War. Para pendatang itu tidak membawa identitas dan tidak melapor kepada aparat setempat.
  3. Malah, kabarnya, pada Jumat berikutnya akan didatangkan lagi tamu-tamu dari Malaysia.
Kamis Kliwon, 12 Januari 1989
  1. Pukul 10.00 (pagi hari). Berdasarkan laporan Sukidi, Amir Puspa Mega mengirim surat kepada Zulkifli Maliki, Camat Way Jepara, tentang situasi Cihideung. Di dalam amplop, dilampirkan surat Sukidi, yang melaporkan situasi dusunnya.
  2. Pukul11.30 (menjelang Lohor). Hari itu juga, melalui surat, Zulkifli memanggil Kepala Desa agar segera menghadap Camat Way Jepara, dengan membawa: Jayus, Pak War, Mansur, dan Sukidi. Dalam surat panggilan itu, Zulkifli memerintahkan kepala Desa harus segera menghentikan dan melarang pengajian yang mendatangkan orang-orang dari luar daerah, apalagi tanpa permsi kepada aparat setempat.
  3. Pukul 16.30 (bakda Asar). Beberapa menit setelah membaca surat dari Camat, Warsidi segera mengirim jawaban berupa surat ketikan. Isinya ringan, seperti tanpa beban.
    "Yth. Bapak Camat Way Jepara di tempat.
    Dengan hormat,
    Bahwa surat yang kami terima, sudah kami ketahui isinya.
    Perlu diketahui kami dalam kesibukan, dalam mengisi pengajian di berbagai tempat.
    Oleh sebab itu kami tidak bisa datangke Kantor Bapak.
    Kami sebagai orang Islam yang sangat menjunjung tinggi Sunnatulloh dan Sunnaturrosul dalam sebuah Hadist dikatakan:
    SEBAIK-BAIKNYA UMARO IALAH YANG MEN- DATANGI ULAMA DAN SEBURUK-BURUKNYA ULAMA YANG MENDATANGI UMARO.
    Oleh karenanya kami mengharap kedatangan Bapak di tempat kami untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
    Demikian harap maklum ...
    Semoga Allah memberi hidayahNya.
    Hormat kami, Ttd.
    ( ...War ...)".-
  4. Zulkifli mengaku, seperti kena tampar ketika membaca surat Warsidi yang isinya meminta dirinya yang datang dan bukan sebaliknya. la tak menyangka, suratnya akan mendapat balasan seperti itu.
Jum'at Legi, 13 Januari 1989
  1. Pukul 15.00 Untuk memenuhi permintaan Warsidi, Zulkifli bersama rombongan: Kades Rajabasa Lama, Kades Labuhan Ratu, Kadus Talangsari III, Kadus Kelahang dan beberapa staf lain datang ke lokasi.
  2. Pada pertemuan itu, Zu1kifli mempertanyakan maksud hadis yang dikutip Warsidi dalam suratnya. Kiai War tidak segera menjawab. Setelah mukanya menoleh ke kiri dan ke kanan, beberapa pengikutnya curna menganggukkan kepala. "Pokoknya itu ada di hadis", kata Warsidi kemudian.
  3. Zulkifli menggambarkan, pertemuan yang berlangsung satu jam di rumah panggung itu tidak bersahabat dan menegangkan. Menurut Zulkifli, ada sekitar 30 orang di bangunan tersebut. Malah dari arah belakang, Zulkifli mendengar seseorang berbisik: "Bunuh saja Camat itu".
  4. Sebelum pamit, Zulkifli mengundang Warsidi untuk menemuinya di kantor Camat. Kabarnya, Kiai War berjanji akan memenuhi undangan itu, hari Sabtu, 14 Januari 1989.
Sabtu Pahing, 14 Januari 1989
  1. Pagi itu Zulkifli menunggu Kiai War dari Cihideung. Tetapi sampai siang, bahkan hingga sore, Warsidi tak kunjung datang.
  2. Kiai War ingkar janji, bukan sementara, malahan selamanya.
Selasa Kliwon, 17 Januari 1989
  1. Dari Pesantren Al Islam, di Desa Labuhan Ratu I, terdengar kabar ada seorang bemama Usman membuat gara-gara. Guru pesantren ini mengusir Kiai Junaidi, pemilik Pesantren Al Islam yang pemah menolongnya, beberapa waktu sebelumnya.
  2. Drama pengusiran terhadap tuan rumah ini berdampak panjang. Belakangan diketahui, dari surat rahasia Usman, pengambilalihan pondok, ternyata ada kaitannya dengan Warsidi yang sering mondar-mandir ke tempat itu.
  3. Usman, pria kerempeng kelahiran Semarang, 13 September 1960, punya sejarah anti pemerintah. Pada tahun 1985, ia divonis Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta, 1 tahun penjara, karena menghina Presiden Soeharto.
  4. Ketika hendak diadili, dari mulutnya keluar kata-kata: "Saya tidak percaya pengadilan berhala. Di Mahkamah Allah nanti kita buktikan siapa yang benar", sanggah Usman di depan pengadilan.
  5. Selepas menjalani hukuman, Usman menghilang. Belakangan diketahui, dia sudah ada di Pondok Al Islam, milik Kiai Junaidi yang ia kudeta itu.
  6. Bersama pengurus Yayasan Al Islam, Kades Labuhan Ratu I melaporkan Usman ke kantor Camat Way Jepara, Lampung.

Jumat Kliwon, 27 Januari 1989
  1. Sepuluh hari setelah membaca surat dari Al Islam, Zulkifli melapor kepada, Kapten Soetiman, Dan Rarnil Way Jepara.
  2. Dalam laporannya, Zulkifli meminta Soetiman agar segera memeriksa Usman sekaligus memanggil Jayus berikut Anwar Warsidi, pemimpin kelompok Mujahiddin Cihideung.
  3. Di dalam surat itu juga disebutkan bahwa Jayus dan Warsidi pemah dipanggil Camat, tetapi tidak mau datang. Malah ia mengancam akan membunuhnya, ketika rombongan Camat mendatangi markas mereka.
Sabtu Legi, 28 Januari 1989
  1. Darah Sang Kapten bergolak ketika mendapat laporan seperti itu. Hari itu juga, Komandan Militer Way Jepara ini segera memangil Usman, Warsidi,dan Jayus, melalui surat.
  2. Dalam suratnya, Kapten Soetiman memberi kelonggaran kepada mereka sampai hari Rabu, 1 Februari 1989. Namun, Warsidi cs tetap tak datang, malah menantang.
Rabu Kliwon, 1 Februari 1989
  1. Amir Puspa Mega, Lurah Rajabasa Lama, melapor kepada Soetiman tentang kegiatan Warsidi.
  2. Menurut Lurah tersebut, Warsidi dan anak buahnya, semakin hari menunjukkan kegiatan-kegiatan aneh, seperti belajar memanah, latihan beladiri, dan merakit bahan peledak dari botol bekas minuman anggur
Kamis Legi, 2 Februari 1989
  1. Oleh Soetiman, informasi lurah tersebut segera dipalorkan ke Kodim Metro, Ibu kota Lampung Tengah. Dari atasannya di Kodim, Soetiman mendapat tugas memantau lokasi dan mengamankan situasi.
  2. Sementara itu, diam-diam, Sukidi menyelinap mendekat lokasi. Dari balik semak, Sukidi melihat kejadian aneh. Ada sejumlah anak muda mengenakan seragam pangsi hitam, dengan ikat kepala. Mereka bersenjata pedang, celurit, golok, dan panah.
  3. Kejadian itu dilaporkan kepada Dan Ramil Soetiman.
Minggu Wage, 5 Februari 1989
  1. Soetiman tak mau kehilangan momentum. la segera memerintahkan 2 orang anggotanya, Serma Dahlan dan Kopda A. Rahman menuju lokasi.
  2. Dua utusan itu menghubungi perangkat desa Baheram, Sukidi, Poniran, dan Supar. Masing-masing sebagai Pamong, Kadus, RW, dan RT.
  3. Malam itu, sekitar pukul 23.30, mereka mendekat ke lokasi dan menangkap 6 pemuda tanggung (satu lepas), yang dicurigai. Dari mereka, disita sekarung anak.panah, 5 golok, 2 pedang, dan 2 born molotov.
  4. Mereka bernama Sardan bin Sakip (15 th.), Mujiono bin Sadik (15 th.), Parman bin Bejo (19 th.), Sidik bin Japar (16 th.), Saroko bin Basir (16 th.). Seorang lagi benama Sadar alias Joko berhasil melarikan diri dalam perjalanan menuju kantor Kelurahan.
  5. Parapemuda tanggung, berusia belasan tahun itu, mengaku berasal dari Bandar Agung, Labuhan Maringgai, Lampung Tengah, kecuali Saroko, yang mengaku berasal dari Teluk Betung.
  6. Setelah tak berhasil mengorek keterangan dari mereka, pihak kelurahan segera mengangkutnya ke Koramil. Aparat Koramil pun tak berhasil menginterogasi mereka. Kabarnya, mereka sangat teguh memegang sumpah setianya untuk berdiam diri dan menutup mulut.
  7. Menjelang subuh, mereka kemudian dikirim ke Korem 043 GATAM, di Bandar Lampung.

Senin Kliwon, 6 Februari 1989
  1. Pukul 01.00 ( dini hari) Warsidi terbelalak ketika mendengar pengikutnya ditangkap. Kepada Fadhillah dia memerintahkan untuk merebut kembali anak buahnya yang ditahan aparat. Malam itu juga, Fadhillah berangkat dengan 12 orang pasukan terlatih. Segala kebutuhan dipersiapkan. Golok, panah, dan peledak termasuk seperangkat pakaian dikemas. Mereka berjalan kaki berkilo-kilo meter menerobos belukar menuju Koramil Way Jepara.
  2. Pukul 06.00 (pagi hari). Fadhillah Cs. sampai tujuan. Sebelum beraksi, ia mendengar kabar bahwa semua tahanan Talangsari sudah dikirim ke Korem GATAM di Bandar Lampung. Fadhillah berunding dengan anak buahnya dan sepakat melanjutkan perjalanan menuju Bandar Lampung. Namun, sebelumnya mereka harus ke Sidorejo dahulu, singgah di rumah Zamzuri untuk beristirahat dan mengatur siasat. Dari markas Zamzuri di Sidorejo itulah mereka merencanakan penyerangan ke Bandar Lampung, pada sore hari.
  3. Pukul 11.00 (siang). Kasdim Metro, Mayor E.O. Sinaga bersama rombongan datang di Kelurahan Rajabasa Lama, bermaksud ingin bertemu langsung dengan Kiai War. Dari kantor kelurahan Rajabasa Lama, rombongan Kasdim itu dipandu Kapt. Soetiman, beriringan menuju sarang Warsidi, yang berjarak sekitar 7 km. Iring-iringan rombongan dibagi tiga regu, yakni regu Korarnil, regu Kasdim, dan regu Camat. Kapten Soetiman dengan sepeda motor berada paling depan, memimpin rombongan, disusul 2 jeep kendaraan Kasdim, kemudian diikuti Camat Zulkifli beserta perangkat desa.
  4. Pukul 11.30 (tengah hari). Rombongan memasuki lokasi. Suasana sepi, seperti tak ada penghuni. Sayup-sayup terdengar suara sepeda motor Kapten Soetiman dimatikan. Bersamaan dengan matinya mesin sepeda motor itu, tiba-tiba seorang pemuda bertenak. " Allahu Akbar ...," dan sebilah demi sebilah anak panah melesat dari balik semak menuju ke arah Soetiman. Suara takbir itu disambut susul-menyusul, bagaikan nyanyian Perang Sabil. Puluhan anak buah Warsidi bertabur, keluar dari rumah-rumah bambu sambil mengacungkan senjata pembunuh, menyerang rombongan. Mayor Sinaga terkesima, mulutnya cuma bisa ternganga, "mundur ...!", teriaknya memerintahkan anak buahnya agar meninggalkan lokasi. Seketika itu, kendaraan Sinaga berbelok arah dengan menerjang-terjang pepohonan, laju meninggalkan lokasi. Berbeda dengan Sinaga, yang selamat Kapten Soetiman menjadi bulan-bulanan anak buah Warsidi yang tengah kesetanan. la dikejar-kejar, tubuhnya dikoyak-koyak, dan lehemya ditebas sampai tewas.
  5. Pukul 12.30 (setelah satat Lohor). Di musala Jayus, terjadi pro dan kontra sesama jamaah. Suasana pondok Warsidi menjadi tak mengental lagi. Persatuan antar jamaah buyar setelah sadar bahwa mereka telah membunuh aparat keamanan. Tidak semua anggota Warsidi setuju dengan kejadian itu. Mereka yang tak punya nyali kemudian meninggalkan perkampungan Warsidi, melalui berbagai jalur: Pakuan Aji, Talangsari, dan Kelahang. Masyarakat sekitar menggambarkan ada ketakutan yang menghantui wajah mereka setelah terjadi pembunuhan aparat. Pada saat terjadi eksodus, Warsidi mengirim utusan untuk mencari Fadhillah agar segera kembali ke Cihideung.
  6. Pukul 15.30 (usai sholat Ashar). Jenazah Soetiman dikubur. Fadhillah datang menemui Warsidi. Menurut pengakuan Fadhillah, Warsidi memerintahkannya untuk mengubah strategi, setelah menyadari Soetiman tewas ditangan anak buahnya. Fadhillah harus menciptakan huru-hara di seluruh Lampung agar aparat sibuk dan tidak berkonsentrasi ke Cihideung. Sore itu Fadhillah berangkat ke Sidorejo menemui pasukannya dengan seonggok beban.
  7. Pukul 19.30 Fadhillah berangkat. Niatnya sudah bulat, perang. Di kepalanya tak ada kata lain, "Hidup mulia atau mati syahid". Dari rumah Zamzuri di Sidoredjo, mereka hendak ke Korem GATAM di Bandar Lampung. Dan, jalur yang akan mereka tempuh ialah melalui Sribawono ke jurusan Panjang yang berjarak sekitar 90 km. Untuk mempercepat perjalanan, mereka menyewa angkutan umum. Tetapi sayang, di dalam kendaraan yang hendak mereka sewa, ada seorang anggota ABRI, Pratu Budi Waluyo yang tetap ingin ikut meskipun Fadhillah telah membujuknya agar Sang Pratu mau mengerti. Akhirnya Budi Waluyo sepakat dibawa serta. Dalam perjalanan, mereka berdialog, saling memperkenalkan diri. "Jadi Bapak tahu kejadian tadi siang di Cihideung?". Budi Waluyo dengan gagah menjawab: "Saya ikut menyerang, di sana". Mendengar kata-kata itu, Fadhilah gelap mata. Pedangnya segera dihujamkan ke dada Budi Waluyo hingga tewas. Menyadari ada pembunuhan, sopir angkutan lari meninggalkan kendaraannya. Fadhillah bersama pasukan membawa kendaraan tersebut menuju ibu kota Lampung dan menebar teror sampai pagi.
  8. Pukul 20.00 Sementara Fadhillah membuat kerusuhan suasana di Cihideung mencekam. Aparat tengah bermuram durja sambil merancang untuk mengambil jenazah Soetiman dengan paksa, setelah tak ada tanda-tanda damai dari Warsidi.
Selasa Legi, 7 Februaii 1989
  1. Pukul 01.00 Satu tim pasukan khusus, mengintai lokasi.
  2. Pukul 03.00 Petugas memperingatkan Warsidi berulang-ulatlg melalui pengeras suara megaphoen agar segera menyerahkan jenazah Soetiman. Tak ada reaksi Warsidi bahkan juga tak ada tanda-tanda kompromi. Himbauan dan peringatan seperti itu terkesan tak lagi dihiraukan. Ketika pagi mulai menyeruak, seseorang dari balik dinding memberi komando jihad. Bersamaan dengan itu, orang-orang Warsidi berhamburan keluar sambil membawa panah dan golok menyerang petugas. Tentu saja, ini perbuatan sia-sia karena aparat tak mungkin membiarkan mereka melakukan penyerangan yang mecmbabi buta seperti itu.
  3. Pukul 07.00 Loso (60 th) dan Kamarudin (30 th), warga Pakuan Aji yang menjadi pemandu garis depan, mendengar ada orang merintih-rintih di dalam sebuah pondok. Kedua orang ini mencari tahu dari mana suara itu berasal. Belakangan diketahui, seseorang membacok anggotanya sendiri, ketika hendak menyerah ke aparat. Kamarudin malah melihat, bangunan rumah bambu itu kemudian dibakar oleh anak buah Warsidi.
  4. Pukul 11.30 (menjelang Lohor). Kobaran api yang melahap pondok Warsidi beserta isinya baru bisa dipadamkan. Kini, setelah sebelas tahun berlalu, masyarakat Talangsari III mulai diresahkan oleh sekelompok orang yang mengkais kembali luka lama. Para tokoh masyarakat dan juga para pengasuh Pesantren di Wilayah Lampung Tengah, menduga ada "pemain baru", bertopeng kemanusiaan membela Warsidi. Kejahatan memang selalu satu kamar dengan kebenaran, walaupun tidak pemah akur.

Sumber tulisan : www.gegertalangsari.com

0 Komentar Anda: