Selasa, 26 April 2011

Mengenal NII (Negara Islam Indonesia)


SERPIHAN DARUL ISLAM (DI/TII)


ADUL FATAH WIRANANGGAPATI
Seorang santri yang ingin jadi tentara. Pemegang amanah KUKT dari SM. Kartosoewirjo, sejak tahun 1949 hingga sekarang.



ABDUL Fatah Wirananggapati, menyiratkan seorang tokoh Darul Islam tulen. Sebagai seorang Darul Islam ia mengatakan bahwa hingga kini dirinya belum pernah menyerah. Pria kelahiran Kuningan 1923 ini, kendati telah berusia lanjut, kata-katanya menyiratkan semangat Darul Islam yang tak pernah lelah, apalagi kalah. Semangatnya dibangun di atas kakinya yang tetap tegak, menyangga seonggok tubuhnya yang tinggi ramping, gambaran seorang tokoh yang lebih mementingkan isi kepala dibanding isi perutnya. Oleh sebab itu, ringan tubuhnya masih terlihat dari cara kakinya melangkah dengan cepat, secepat kata-katanya bila berbicara.
Cita-citanya untuk menjadi tentara terkabul ketika santri ini bertemu SM Kartosoewirjo di hutan Loyang, Jatibarang, Jawa Barat, tahun 1951. Saat itu, Kartosoewirjo tengah menggalang kekuatan, menyusun barisan untuk meneguhkan berdirinya NII yang belum lama ia proklamirkan. Imam besar Darul Islam itu menjadikan Wirananggapati sebagai seorang Tll berpangkat kolonel. Suatu pangkat yang tak mudah diperoleh, bahkan bagi orang-orang dekat Kartosoewirjo sekalipun. Inilah yang membuat iri hati tokoh DI lainnya, seperti Adah Djaelani dan Haji Abidin atau Ajengan Masduki. Adah Djaelani merupakan seorang pejabat Anggota Komandement Tertinggi (AKT) dan termasuk salah seorang saksi sejarah ketika Kartosoewirjo memproklamasikan berdirinya NII di negeri ini.


Kepada Abdul Fatah Wirananggapati, sang Imam tak cuma memberi pangkat kolonel. Kartosoewirjo malah mengangkatnya menjadi pejabat KUKT (Kuasa
Usaha Komandement Tertinggi), suatu jabatan yang setara dengan AKT (Anggota Komandemen Tertinggi) atau KSU (Kepala Staf Umum) yang kelak pada situasi
tertentu bisa mewakili atau malah menggantikan kedudukan Kartosoewirjo sebagai imam NII.

Lebih jauh tentang Abdul Fatah Wirananggapati. Berikut petikan wawancaranya.


Sebagai pejabat KUKT tugas Bapak sebenarnya apa ?
Sebagai penghubung di dalam ataupun di luar negeri. Untuk tugas diplomatik ke luar, saya pikir, lebih dulu harus menata urusan dalam negeri. Percuma kalau dalam negeri belum beres. Oleh sebab itu, saya segera konsolidasi dengan tokoh-tokoh Islam di daerah yang punya semangat sama. Di Aceh ada Tengku Daud Beureueh,
seorang pemimpin daerah yang disegani oleh Pemerintah RI, selain oleh kalangannya sendiri. Ke sana saya menemuinya dan menjelaskan bahwa negara Islam telah lahir di Indonesia bernama NII dan telah diproklamasikan oleh Kartosoewirjo, pada 7 Agustus 1949.



Apa komentar Tengku Daud Beureueh, ketika itu ?
Alhamdulilllah. Sebab sebelum itu Tengku mengatakan mau mengadakan pemberontakan kepada RI. Saya bilang, sekarang kan sudah ada Negara Islam Indonesia, mengapa tidak bergabung saja dengan NII yang sudah diproklamasikan oleh Imam Kartosoewirjo. Kalau Tengku berontak, bughot jadinya. Tapi, kalau Tengku bergabung dengan NII tidak kena hukum bughot. Mendengar pertimbangan itu, Daud Beureueh senang dan langsung menyatakan ingin mendukung. Dia segera dibaiat sebagai Panglima NII Divisi V Cik Di Tiro. Di saat yang hampir bersamaan, Pemerintah RI mengirim beberapa utusan ke Aceh untuk merangkul Tengku Daud Beureueh, tetapi mereka tidak berhasil. Karena tokoh Aceh itu sudah bergabung dengan Negara Islam Indonesia.



Alasan Bapak, mengapa ke Aceh dan bukan ke daerah lain ?
Karena Aceh sebagai daerah Serambi Mekah, daerah Islam. Untuk kepentingan diplomasi ke Luar Negeri, melalui Aceh lebih dekat atau malah lebih mudah. Setidaknya, bila ingin, misalnya ke Malaka, Penang, Trenggano, Johor, atau ke Negeri Sembilan Malaysia, akan lebih efektif. Aceh menjadi prioritas, karena saat itu Tengku Daud sudah siap-siap hendak bughot-menyerang Pemerintah RI. Untung belum terjadi sehingga bisa diajak ke NII.



Setelah itu Bapak ke mana ?
Kembali ke Jakarta. Saya mau pulang sendiri, tetapi tidak boleh. "Panglima harus dikawal dan diantar", kata Tengku. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta itu saya diantar oleh Mayor Ilyas Lebai atas perintah Tengku Daud. Saya dibawa ke rumah Hasan Gayo di Mangga Besar II, Jakarta. Hasan Gayo ini ternyata mata-mata RI dan diam-diam melaporkan, sehingga saya ditangkap. Siang malam saya diperiksa dan didakwa melakukan kejahatan politik. Seluruh dokumen disita, dijadikan bukti. Akhimya, saya dibuang ke Nusakambangan hingga 1962.



Siapa saja dari kalangan DI yang menyerah ?
Semua pasukan DI pendukung Pak Karto, termasuk Adah Djaelani itu. Setelah Pak Karto tertangkap, keadaan memang berubah dan menjadi kacau. Saya juga disuruh menyerah, tetapi saya tidak mau. Akhirnya, saya dikucilkan oleh mereka. Jadi, ketika Ali Murtopo membagi-bagi kue Orde Baru untuk membungkam orang-orang DI, saya tidak diajak serta. Dan, akhirnya orang-orang DI yang menyerahkan diri itu umumnya kaya. Malah termasuk Adah Djaelani, punya perusahan dan apartemen besar di Jakarta.



Setelah keluar dari Nusakambangan, kegiatan Bapak apa ?
Saya kembali ke masyarakat dan menjadi guru ngaji. Lain dengan mereka, umpamanya Danu, Ateng, H. Abidin, dan lain-lain lagi, mereka rata-rata menjadi pengusaha. Menurut saya DI harus diperjuangkan dengan mempertajam ilmu pengetahuan dan mempertinggi akhlak. Oleh karena itu, saya lebih memilih jadi guru ngaji. Karena dengan cara inilah, kader-kader baru DI bisa menjadi berkualitas di masa depan.



Bagaimana dengan tokoh muda DI sekarang ?
Mereka orang-orang yang semangatnya tinggi, hanya saja akhlaknya mesti dijaga, masih payah. Contohnya, Nurhidayat. Kalau dia bisa menjaga akhlaknya, mungkin dia bisa menjadi kader yang baik. Nurhidayat itu harus bertobat. Lihatlah, dia itu di mana-mana membuat susah orang, karena ulahnya membuat gerakan di Lampung 1989 itu. Saya sudah melarang supaya tidak membuat gerakan di Lampung, tapi dia nekat. Akhirnya banyak orang dibuat menderita, terutama orang-orang yang dia datangi di Bandung. Mereka itu binaan saya dan semuanya ditangkap.



Mengapa Bapak melarang kelompok Nurhidayat ke Lampung ?
Mereka ke Lampung itu harus punya alasan dan aturan yang jelas. Di Lampung itu mau apa? Untuk apa membuat gerakan di sana? Pemimpinnya siapa. Saya pun tidak mengenalnya. Kalau untuk dakwah seharusnya mereka mempertinggi akidah dan keilmuan, bukan mempersiapkan diri untuk gerakan perang seperti itu. Dalang kerusuhan Lampung itu Nurhidayat yang menghasut Warsidi. Jadi, Nurhidayat itu anak durhaka yang ambisius. Karena geger Talangsari itu, saya ikut terseret masuk bui lagi dengan tuduhan sebagai tokoh DI di balik Nurhidayat.



Bapak bangga jadi tokoh NII ?
Tentu saja sebab NII tidak hanya milik DI, tetapi milik semua kita orang Islam. Lihatlah naskah proklamasinya. Di sana ada Syahadat, Basmalah, dan Hamdalah. Itu kan milik semua orang Islam. Masalah negara bagi saya bukan soal nama, tetapi masalah Daulah. Daulah Islam dan berlaku tegaknya hukum Islam. Itu saja.



Siapa sesungguhnya yang paling berhak menggantikan Kartosoewirjo ?
Sebenarnya sudah ada undang-undang dan Anggaran Dasar NII. Bila Imam berhalangan, maka calon penggantinya haruslah orang yang cakap dan purbawasesa. Mereka diambil dari AKT, KSU, dan KUKT. Di antara mereka diambil yang tertua. Menurut saya Adah Djaelani cocok. Tapi, Adah sudah menyerah. Oleh karena itu, maka harus diserahkan kepada yang belum menyerah. Kiai Masduki juga cocok, karena diajuga tokoh tua. Apalagi dia hafal Alquran, tetapi akhlaknya kurang baik untuk ukuran seorang imam. Contohnya, di depan orang lain dia menyatakan Abdul Fatah Wirananggapati paling cocok menjadi imam, tetapi di belakang, dia menyusun kekuatan sendiri. Itu kan namanya kurang baik dan tidak benar. Akhirnya terbukti, di antara mereka ada konflik dan pecah menjadi tiga kelompok. Adah Djaelani berkelompok dengan Toto Abu Salam. Tachmid dengan Mia Ibrahim, sedangkan Ajengan Masduki dengan Gaos Taufik. Gaos, katanya berbaiat dengan Daud Beureuh.



Berapa kira-kira jumlah anggota atau pendukung NII sekarang ?
Saya tidak tahu, tapi pendukung secara ideologis, saya kira sekarang ini meliputi hampir semua orang Islam. Mereka menunggu tegaknya Darul Islam. Sesungguhnya masih banyak, seperti Suryanegara Mansyur. Dia itu kan orang NII, kalau tidak mau dibilang tokoh NII


Sumber tulisan : www.gegertalangsari.com

0 Komentar Anda: