Selasa, 26 April 2011

Mengenal Kartosoewirjo si Pendiri NII



SERPIHAN DARUL ISLAM

 SETELAH Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Proklamator Negara Islam Indonesia tiada, imam NII dipegang Kahar Muzakkar sampai tahun 1965. Kemudian dilanjutkan Daud Beureuh atau Tengku Muhammad Daud Beureueh hingga tahun 1980. Akan tetapi, setelah para tokoh utama meninggal dunia dan pimpinan beralih ke angkatan berikutnya, mulailah terjadi perselisihan pendapat dan paham tentang siapakah yang berhak dan pantas melanjutkan tugas sebagai pemimpin Negara Islam Indonesia, DI-TII.

Sekitar tahun 1978-1979, Darul Islam pecah ke dalam dua kubu. Pertama, kubu Jamaah Fillah, diketuai oleh Djadja Sujadi. Kedua, Jamaah Sabilillah, dipimpin oleh Adah Djaelani Tirtapradja. Kedua tokoh ini merupakan petinggi militer TII, sebagai Anggota Komandemen Tertinggi (AKT) yang diangkat langsung oleh Kartosoewirjo. Karena "tidak boleh ada dua Imam", Djadja Sujadi dibunuh oleh Adah Djaelani.

Adah Djaelani dimasukkan ke penjara pada tahun 1980 dan perpecahan dalam Jamaah Sabilillah tak dapat dicegah. Darul Islam terburai menjadi beberapa kelompok dengan ketuanya masing-masing. Celakanya, pimpinan kelompok yang satu dengan lainnya saling membatalkan dan saling tidak mengakuinya.
Di antara buraian itu, ada satu kelompok yang dipimpin oleh Abdullah Sungkar dan mempunyai pengaruh luas. Basis kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, terutama Solo dan Yogyakarta. Kelompok ini menjadikan Pondok Pesantren Ngruki di Solo sebagai basis pengkaderan. jamaahnya, Kemudian ditebar ke berbagai wilayah bila dianggap telah mampu. Banyak kadernya yang sudah tersebar di berbagai wilayah dan berusaha menghidupkan kembali gerakan Darul Islam. Salah satunya ialah yang bergabung dengan Warsidi di Talangsari, Cihideung, Lampung. Kelompok Atjeng Kurnia, wilayahnya meliputi Bogor, Serang, Purwakarta, dan Subang. Sementara Ajengan Masduki membangun kejamaahan di Jakarta dan Lampung. Pembinaan terhadap jamaahnya bukan hanya dalam aqidah, syari 'ah, dan siyasah, melainkan juga dalam bidang militer. Sebagai instruktur diambil dari mereka yang sudah pernah terjun di dalam Perang Mujahidin Afghanistan.
Masih ada seorang tokoh tua yang bernama Abdul Fatah Wirananggapati. Tokoh ini, juga punya pengikut yang cukup banyak dan tersebar di berbagai daerah. Wirananggapati bukan hanya seorang tokoh tua, dialah pembuka simpul tersebarnya Darul Islam hingga ke tanah rencong, Aceh, pada masa Kartosoewirjo masih ada.

Di antara serpihan-serpihan Darul Islam itu, ada seorang tokoh bernama Gaos Taufik yang membangun pengaruhnya di Sumatera. Pengikut Gaos dipersiapkan menjadi jundullah atau tentara Allah di daerah pedalaman Sumatera, kalau-kalau suatu waktu terjadi revolusi di Indonesía. Kelompok ini disebut-sebut mempunyai hubungan erat dengan mujahidin Moro di Filipina dan mujahidin Pattani di Thailand.

Tahun 1990-an, terjadi lagi perselisihan paham dalam tubuh Darul Islam. Ketika itu, Adah Jaelani melimpahkan kekuasaannya kepada Abu Toto atau Toto Salam. Menurut beberapa sumber, Toto Salam tidak pernah terdaftar sebagai anggota DI, tetapi selalu memakai nama NII. Dengan segala kemampuannya, ia
melanjutkan pewarisan kepemimpinan Darul Islam yang membawahi jamaah sekitar 50.000 orang. Di bawah pengaruhnya, Abu Toto mendirikan Al-Zaytun, sebuah mega proyek Pondok Pesantren, di Desa Mekar Jaya, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat. Mega proyek yang menempati "ribuan" hektare tanah ini, membuat iri beberapa tokoh Darul Islam lainnya. Sejak itu, sesungguhnya sendi-sendi moral perjuangan Darul Islam sudah terpuruk dan meringkuk. Kesatuan perjuangannya tidak lagi mengental, tetapi buyar bersama ambisi pribadi-pribadi. Karena itu, apa yang dikenal rakyat Indonesia tentang Darul Islam di kemudian hari, sesungguhnya ialah Darul Islam produk dari manusia-manusia yang kurang berkualitas. Darul Islam masa kini ialah Darul Islam produk sempalan-sempalan NII yang senantiasa mengklaim dirinya sebagai "pewaris tunggal" penerus Kartosoewirjo

Sumber tulisan : www.gegertalangsari.com

0 Komentar Anda: