SEKILAS TENTANG ANWAR WARSIDI
FITRAHNYA, tidak ada manusia jelek, apalagi jahat, karena ia adalah cahaya Ilahi. Sifat keilahian, senantiasa mahabaik, lagi sempurna. Yang ada ialah manusia membiarkan hatinya kosong, sehingga setan atau anasir jahat lainnya mengisi dan merusak kalbu. Penghuni kalbu itulah yang menentukan apakah orang "menjadi" malaikat atau setan.
Itu sebabnya, raja semesta alam memerintahkan kita agar selalu ingat kepada-Nya, supaya anasir jahat tidak pemah punya kesempatan menjadi penghuni kalbu.
Apakah Warsidi, tokoh yang hendak kita bicarakan ini, termasuk yang membiarkan kalbunya kosong melompong dari cahaya keilahian? Suatu pertanyaan ! yang tak mudah dijawab. Tetapi, indikasinya bisa kita ukur, misalnya dengan berbagai pendapat orang-orang yang mengenal dirinya. Di satu pihak, orang menyebut kebaikannya lainnya mengatakan kekurangannya. Ragam cerita dari berbagai pihak, yang belum banyak terkuak dalam media tulis ini, akan melengkapi kisah tokoh kontraversial, Anwar Warsidi.
Marsudi Menuturkan
Marsudi (65 th.) mungkin satu-satunya nara sumber paling pas untuk didengar penuturannya. Marsudi ialah adik Warsidi, dari 9 orang keturunan Marto Pawiro, ayah kandung mereka. Dari 9 bersaudara itu, hanya Marsudi yang paling sering hidup bersama Warsidi. Bahkan hingga detik-detik terakhir saat kematian "sang imam", Marsudi tetap setia .mendampinginya.
Usia dua kakak beradik ini juga tak terpaut jauh, hanya selisih 4 tahun. Sekalipun lebih tua, Marsudi mengaku, adiknya jauh lebih cepat dewasa dibanding dirinya. Tak hanya itu, sifat sabar dan baik hati juga dimiliki Warsidi. Kata Marsudi, adiknya itu sejak kecil sudah dicintai dan kata-katanya diturut oleh teman-temannya. Masih seputar itu, Warsidi sangat dikenal sebagai seseorang yang rajin dan pekerja keras.
Sayang, sekolahnya cuma sampai di SD. Selanjutnya mereka hanya mengaji pada seorang ustad desa bernama Kiai Sirot. Dari Kiai Sirot inilah mereka mendapatkan dasar-dasar agama dengan baik. Berbekal sedikit pengetahuan agama itulah mereka berangkat ke Lampung, menyusul Maryumi, kakak perempuannya yang sudah mapan sebagai transmigran di Lampung. Di sana juga ada Marjudi (Muhammad Judi), kakak Maryumi yang menjadi transmigran, sejak 1939.
Warsidi lahir di desa kecil bemama Sebrang Rowo, kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah tahun 1939, sebagai anak terakhir. Kakak-kakaknya bernama: Marjudi, Maryumi, Marsandi, Marsiyah, Marsidi, Marsudi, Suwandi, Dulbahri. Dua kakaknya yang terakhir, Suwandi dan Dulbahri, telah meninggal dunia sebelum keluarga mereka boyong ke Lampung Tengah.
Kabarnya, Maryumi sangat membenci Warsidi, setelah adik kandungnya itu berguru kepada seorang kiai bernama Anwaruddin. Pasalnya, Warsidi tiba-tiba menjadi aneh. Bahkan, Maryumi dikatakan kafir, setelah ia menasihatinya agar tidak berguru lagi kepada .Anwaruddin.
Di mata Warsidi, kiai Anwar tergolong ulama besar, berilmu tinggi dan karena itu wajib ditaati kata-katanya. Warsidi memilih meninggalkan Maryumi dan mengikuti ke mana Kiai Anwar pergi. Sejak itu mereka mulai menjauh dan meniti jalan masing-masing.
Anwaruddin ialah seorang guru ngaji di Bandarjaya, Batanghari, Lampung sejak 1965. Pertemuan dua anak manusia ini bukan di tempat pengajian, tetapi di sebuah masjid di Bandarjaya itu. Ketika Warsidi hendak menunaikan salat, matanya terkesima melihat seseorang yang telah menyelesaikan salatnya, terkesan sangat khusuk. Warsidi memperkenalkan diri. Dari perkenalan itu ia menyimpulkan, Anwaruddin bukan orang sembarangan. Lebih-lebih setelah Anwaruddin membeberkan kisah hidupnya kepada Warsidi.
Warsidi memutuskan menjadi murid kiai yang baru ia kenal itu. Seluruh ucapan "gurunya" juga ingin ia tiru, termasuk perilaku Anwaruddin yang pemah membunuh orang kafir. Menurut Anwaruddin, membunuh orang kafir tidak berdosa dan memeranginya ialah perbuatan jihad. Dalam pandangan kiai pujaan Warsidi itu, pemerintah juga digolongkan sebagai orang kafir.
Warsidi semakin banyak mengetahui pandangan-pandangan gurunya. Misalnya, pemerintahan thoghud harus diperangi dan diganti dengan. pemerintahan Islam. Bagi siapa yang tidak sama dengan dia dap tidak menjalankan syariat Islam dengan baik, kafir, Sayang, nasib menentukan lain. Pertemuan mereka terhalang. Sang guru ditangkap dan dipenjara 'karena mencerca Bung Karno yang kala itu masih berkuasa.
Masih untung, sang guru asal Banyumas itu segera dilepas sebelum putusan pengadilan jatuh, tertolong oleh peristiwa G 30/S PKI. Selepas dari penjara, Anwaruddin diusir oleh masyarakat karena ucapan dan tingkah lakunya tak membuat sejuk umat. Anwaruddin pindah ke Kogan Lima, Lampung Utara. Warsidi bersama Juwariah istrinya, juga ikut boyong ke daerah baru, mengikuti sang guru. Hanya berbekal menjual sepetak tanah, satu-satunya harta, Warsidi menjalani hidup bersama gurunya sebagai orang usiran. Akhirnya, kehidupan Warsidi semakin jauh dari kakak-kakaknya, kecuali Marsudi.
Setahun setelah menjadi orang usiran, Anwaruddin meninggal dunia. Warsidi segera bertindak menggantikan posisi Anwaruddin, termasuk menggantikannya sebagai suami bagi janda sang guru. Sejak itu, nama Warsidi berubah menjadi Anwar Warsidi. Tambahan " Anwar" diambilnya dari namaAnwaruddin, semata-mata agar citra guru besarnya itu tetap melekat dalam dirinya.
Setelah kematian gurunya, Warsidi hijrah ke Pakuan Aji. Selain karena soal ekonomi, masyarakat juga tak lagi berkenan dengan keberadaan Warsidi dan keluarganya. Tetapi tak lama di Pakuan Aji , ia kemudian pindah ke Labuhan Ratu menjadi buruh koret di ladang-ladang penduduk sambil terus mengajar ngaji bagi penduduk setempat. Di sanalah ia bertemu Jayus yang kemudian memboyongnya ke Cihideung.
Di Cihideung, Warsidi membawa serta Marsudi, satu-satunya kakak yang paling mengerti kondisinya. Bersama Marsudi, dia membangun tempat kegiatan yang berasal dari hibah Jayus, untuk dipersiapkan sebagai pusat pengajian massal. Belum berkembang, apalagi berbuah, badai malapetaka datang. Sebuah cita-cita musnah sia-sia, bersama mimpi-mimpinya yang tak sampai.
Cerita Dari Pakuan Aji
Kisah Warsidi masih berlanjut. Kali ini datang dari Pakuan A ji, daerah yang pemah ia singgahi. Kepala desa Pakuan Aji bemama Ismed Inonu (42 th). Seorang pria kelahiran Pakuan Aji dan merupakan bagian dari yang sedikit penduduk asli Lampung yang masih tinggal di daerah tersebut. Pada saat Warsidi berjaya menjadi kiai Cihideung, Ismed sebagai tukang ojek yang mondar-mandir mengantar jamaah, keluar masuk Talangsari. Kala itu, hanya dari arah Pakuan Aji, lokasi Warsidi mudah ditempuh.
Ismed mengaku tahu banyak ihwal tokoh Jawa yang paling menghebohkan daerah Lampung tersebut. Kata Ismed, kedatangan Warsidi di Pakuan Aji seperti angin, tanpa permisi. Sekali waktu datang, kali lain hilang. Budaya tak melapor diri agaknya sudah tradisi bagi tokoh ini.
Masyarakat mengenalinya, pertama kali di daerah Umbul Puk, masib wilayah Pakuan Aji, tahun 1987. Warsidi kemudian pindah ke Umbul Hujan Mas, menggarap kebon lada milik Marsan dengan cara bagi basil.
Dari mulut Marsan, Ismed Inonu mendengar cerita aneh tentang Anwar Warsidi. Kata Marsan, ucapan-ucapan Pak War sering ngelantur tak karuan. Misalnya, ia ingin punya anak yang bertanduk dan berekor. Pemah pula Warsidi berteriak-teriak tanpa sebab yang jelas di kerumunan orang. Itu juga sebabnya, Ismed tidak percaya ketika orang-orang mengatakan, kini Warsidi menjadi kiai di Cihideung dan banyak santri belajar mengaji kepadanya. Meski demikian, Ismed sempat terkesima ketika banyak tamu dari luar kota , keluar masuk. Cihideung dan mengaku hendak belajar ngaji ke Kiai Warsidi. Tetapi, kekaguman Ismed tidak bertahan lama. Kabar angin pun segera semilir. Tersiar kabar, tamu-tamu Warsidi ternyata membawa masalah.
Mereka kernudian rnernbenarkan kabar angin yang diceritakan orang. Kepada penduduk Pakuan Aji, Isrned mewanti-wanti agar sernakin hati-hatidengan Warsidi.
Tidak lama setelah itu, Warsidi benar-benar rnenjadi buah bibir di tengah rnasyarakat Pakuan Aji. Sebagian besar penduduk rnenyaksikan tarnu-tarnu Warsidi, mernbawa-bawa pedang dan juga belajar rnelontar panah di tengah sawah. Tak curna itu, rnereka juga belajar merakit bahan peledak dari botol-botol kosong yang diisi bensin, serbuk gergaji, dan bubuk korek api. Para pemudanya giat berlatih silat, di kepalanya terikat kain bertuliskan jihad.
Kian hari, anak buah Warsidi kabarnya sernakin tak terkendali. Warga rnenjadi tidak tenang, untuk apa senjata-senjata perang itu digalang. Isrned juga tak bisa menjelaskan bagairnana seorang buruh koret seperti Warsidi rnendadak rnenjadi kiai, lalu rnenyerukan pembuatan panah dan rnernpelopori perakitan born di tempat terpencil seperti Cihideung.
Teka-teki itu akhimya tersingkap, setelah Warsidi dan anak buahnya rnembuat heboh, rnernbunuh Danrarnil Way Jepara, ketika berkunjung ke rnarkas Warsidi. Kapten Soetirnan ditangkap, tubuhnya dikoyak panah beracun dan lehernya ditebas hingga tewas. Mayat pemirnpin rornbongan itu ditahan dan disandera. Peristiwa tersebut rnengagerkan banyak orang, kabutnya tak hanya rnenggelapkan langit Larnpung, tetapi juga meredupkan langit rnanca negara. Kisah pernbantaian Kapten Soetirnan, Danramil Way Jepara inilah klimaks, bagi teka-teki 'Cerita Dari Pakuan Aji'.
Pengakuan Mushonif dan Fadhillah
Warsidi pada awalnya sangat diharapkan bisa menjadi pemersatu bagi suatu kelompok yang tengah bertikai karena kelompok Nll pada masa itu sedang terburai dan terpecah belah. Sesama anggota Nll bahkan para pemimpinnya tak lagi bersatu, malah cenderung saling ancam hendak membunuh lainnya. Pada situasi seperti itu, satu-satunya tokoh yang masih bisa diharap menjadi pemersatu hanya , Warsidi, meski mereka akui belum cukup syarat, layaknya seorang tokoh besar di lingkungan Nll. Apa boleh buat, ltulah komentar Mushonif dan juga kesan yang tersirat dari centa Fadhillah.
Kelompok Ngruki di Jawa Tengah memang sedang r kehilangan tokoh besar Abdullah Sungkar yang kabur ke Malaysia . Padahal, Nll Lampung yang diharapkan bisa menampung jamaah Ngruki lagi kisruh, lantaran para pengurusnya bertikai saling berebut pengaruh untuk menjadi ketua. Mereka ialah Muhammad Rifai dan Zainal Arifin. Keduanya mengangkat dirinya menjadi pemimpin Nll wilayah Lampung. Sementara itu, ada satu kelompok kecil di Jakarta yang tengah bermimpi membangun suatu kawasan untuk dijadikan perkampungan muslim, sebagaimana yang ada di Malaysia . Mereka yang di Jakarta itu ialah Sudarsono, Nurhidayat, dan Achrnad Fauzi.
Kelompok-kelompok bingung inilah yang kelak kemudian dianggap sebagai cikal-bakal meletusnya geger Talangsari di Lampung Tengah itu. Sementara kelompok-kelompok bingung itu mencari sosok pemimpin, Warsidi berpeluang menjadi pilihan mereka.
Mengapa Warsidi terpilih? Mushonif menyatakan, Warsidi punya tempat, meskipun tidak terlalu luas, Lahan 1,5 hektar di kawasan Cihideung dinilai cukup untuk satu kegiatan awal. Alasan lain, Lampting dianggap tidak terlalu jauh dari Jakarta , dibanding harus ke NTB, misalnya.
Pemuda Mushonif (24 th.), saat Cihideung-meletus, sesungguhnya tidak secara langsung terlibat kegiatan Warsidi. Saat itu, dia bersama Usman mengajar di pesantren Al Islam di Labuhan Ratu, tak jauh dari Cihideung, melihat Warsidi merupakan sosok yang gigih memperjuangkan cita-cita Islam. Di mata Mushonif, Warsidi termasuk tokoh yang pantas diikuti karena ucapan dan tindakannya sejalan. Lebih dari itu, Mushonif juga kagum setelah mendengar bahwa seorang Warsidi berkeinginan hendak membangun suatu "Perkampungan Muslim". Meskipun belakangan diketahuinya semua itu sesungguhnya akal-akalannya Darsono, yang mengeksposnya ke Lampung.
Mushonif tak pemah membayangkan, hubungannya dengan Warsidi akan membawanya ke penjara, hingga 10 tahun di Nusakambangan. Di depan pengadilan, pria berkacamata ini geram dan melontarkan caci maki kepada aparat, serta sumpah serapah terhadap pemerintahan Orde Baru yang dianggapnya jahat dan zalim.
Berbeda dengan Mushonif, Fadhillah sejak awal sudah mengagumi Warsidi. la melukiskan, Warsidi ialah tokoh yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Seluruh hidup Warsidi, menurut Fadhillah, diperuntukkan bagi perjuangannya. Bahkan pada detik-detik terakhir menjelang ajal, Warsidi menyatakan, lebih baik mati syahid daripada menyerah kepada kaum kafir. Sifat teguh Warsldi inilah yang mengilhami Fadhillah untuk tetap menjadikannya sebagai tokoh idola bagi dirinya. Kebaikan Warsidi, kata Fadhillah, sulit diukur dan dicari padanannya. Contohnya, suatu hari, ketika Fadhilah. sedang melarikan diri ke tengah hutan, orang pertama yang mau menemuinya hanyalah Anwar Warsidi. Kata Fadhillah, ucapan-ucapannya menyentuh kalbu, bagaikan puisi para pujangga yang mampu menyinari remang-remangnya belantara.
Warsidi menawarkan agar Fadhilah bergabung bersama teman-teman seperjuangan. "Berjuang tidak bisa sendiri", kata Warsidi. "Kalau masih ada kawan, mengapa bersendiri di hutan?". Inilah antara lain kata-kata yang terlontar dari mulut Warsidi, saat menemuinya di tengah hutan, kala itu. Hati Fadhillah benar-benar runtuh. Dan tak lama kemudian, dia memboyong keluarganya bergabung dengan Warsidi, menghadang masa depan. Di Cihideung, bersama tokoh pujaannya itu. Fadhillah menunggu pemimpin sejati. Pemimpin yang tak meninggalkan umatnya sebagaimana Abdullah Sungkar yang kabur ke Malaysia , juga pemimpin yang tak sembarang mengangkat diri sendiri, menjadi imam, seperti Zainal Arifin atau Muhamad Rifai. Meskipun pemimpin ideal itu tak kunjung datang, sampai malapetaka Cihideung merenggut semua keluarganya, menjadl tumbal bagl harapannya yang gagal, Fadhillah tetap hormat dan mencintai Warsidi sampai kini.
Warsidi, Mbedagol
Istilah mbedagol mungkin tidak lazim bagi masyarakat umum. Namun, untuk kelompok tertentu di daerah Jawa Tengah, sudah biasa terdengar. Istilah ini digunakan terutama untuk menyebut orang-orang yang keras kepala, egois, tak mau menerima pendapat orang lain, dan fanatik. Demikianlah kesan yang terungkap dari Suryadi ( 49 th. ), ketika menceritakan pengalaman hidupnya bersama Warsidi, beberapa tahun di Cihideung, Lampung Tengah.
Suryadi orang Solo, Jawa Tengah, lari ke Lampung sungguh tak punya rencana tinggal di Cihideung, lebih-lebih bertemu seseorang yang bemama Anwar Warsidi. Awal pertemuannya dimulai dari rumah Marsan di Hujan Mas, Pakuan Aji. Cukup singkat, menjadi buruh koret di peladangan lada.
Pengikut Abdullah Sungkar dari Ngruki, Jawa Tengah yang melarikan diri ke Lampung lantaran dikejar-kejar aparat ini, tak banyak mempedulikan Warsidi, karena sejak awal pertemuannya tidak ada tanda-tanda kecocokan dalam hati. Meskipun demikian, hubungan mereka berlanjut hingga ke Cihideung, rumah keluarga Jayus. Suryadi dipercaya membuat genteng di perusahaan Jayus. Sedangkan Warsidi bertugas memakmurkan musala Jayus, sambil merancang cita-citanya untuk mendirikan sebuah perkampungan muslirn yang digagas Darsono Cs di J akarta.
Menurut pengakuan Suryadi, mengapa .Warsidi tak pemah cocok dengannya, karena pandangan Warsidi selalu berlawanan. Warsidi seringkali mengatasnamakan Alquran dan Sunah Rasul, meski sesungguhnya ucapan seperti itu, belum layak keluar dari orang sekelas Warsidi.
Tokoh kontroversial ini sering mengkafirkan orang-orang yang selain dia. Menzalimkan pemerintah, membatalkan Pancasila, dan menghalalkan darah ulama, bila tak sejalan dengannya. Suryadi menggambarkan, Warsidi ialah tokoh yang mbedagol, sulit disentuh pendapat orang lain. Ada saja jawaban yang segera keluar dari mulutnya, manakala orang lain mengingatkan. Misalnya, ketika diingatkan soal membaca Alquran, Warsidi menjawab, "Kita bukan orang Arab, maka wajar kalau salah membaca".
Renik pernik seperti itulah yang membuat Suryadi nyaman tinggal di Cihideung bersama tokoh Warsidi dan segera memutuskan pergi, setahun sebelum tragedi meletus.
Warsidi Makan Belakangan
Pada awalnya, Warsidi di mata Arifin bin Karyan (44 th.), hanyalah manusia biasa yang tak banyak kelebihannya. Namun semakin lama bersama Warsidi, la tak bisa tidak mengagumi tokoh langka ini. Bertambah hari, Arifin semakin betah di kompleks Cihideung itu. Hatinya menjadi merasa tenteram, setelah lama gelisah tak menentu, saat sebelum kenal Warsidi. Di Talangsari inilah Arifin menemukan kehidupannya meskipun akhimya harus kehilangan seluruh keluarganya.
Arifin bersama istri dan dua anaknya, serta satu sepupunya, berangkat dari Tanjung Priok Jakarta, menuju Lampung. Selain ingin meningkatkan harkatnya, ia juga berkeinginan mencari ketenteraman untuk menjalankan perintah gama.
Di Lampung, dia disambut dengan suka cita oleh jamaah lain yang datang lebih dulu dari dirinya. Kesan seperti itulah yang hingga kini masih terasa. Saat itu, seorang yang bemama Warsidi memperkenalkan diri sebagai pemimpin pengajian. Kata Arifin, Warsidi terkesan sebagai sosok yang sederhana, penuh perhatian dan tanggung jawab. Istri Warsidi, setiap pagi selalu mendatangi jamaah dan menanyakan apakah segala kebutuhan untuk hari ini sudah tercukupi, misalnya beras dan lain-lain.
Bila waktu makan, anak-anak harus makan terlebih dulu, selanjutnya para ibu dan kemudian disusul para bapak. Warsidi selalu makan paling belakang setelah semua jamaah selesai. Demikianlah cerita Arifin bin Karyan yang sempat hidup beberapa bulan bersama komunitas Warsidi.
0 Komentar Anda:
Poskan Komentar