" Membaca adalah guru sejati yang membuat kita jadi pandai !?! -- Bila kesalahan membuat kita menjadi pengalaman maka janganlah mencari pengalaman dengan membuat kesalahan -- (Kumpulan-kumpulan bacaan, semoga bermanfaat !#!?)
Selasa, 16 September 2008
Berkhidmat di Bulan Ramadhan
Cara yang paling efektif untuk mempererat hubungan, baik di dalam keluarga atau masyarakat, adalah dengan melakukan aktivitas sosial kemasyarakatan. Aktivitas sosial kemasyarakatan yang kita lakukan merupakan wujud khidmat kita kepada masyarakat.
Khidmat kepada masyarakat dapat dilakukan dengana cara, pertama, menjamu orang-orang yang shaum. Bila berpikir matematis, maka sering-seringlah memberi makan kepada orang-orang yang shaum, karena pahala akan kita dapatkan berlipat-lipat. Tetapi, pahala sebaiknya tidak dijadikan tujuan utama. Niatkanlah karena Allah. Jadikan amalan ini sebagai latihan berderma sehingga kekikiran hilang dari diri kita.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa memberi makan kepada orang-orang yang bershaum, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang bershaum itu, tanpa menguranghi pahala orang yang bershaum tersebut." (HR. Tirmidzi).
Kedua, memperbanyak sedekah. Rasulullah SAW mengatakan bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan.
Ketiga, meningkatkan aktivitas sosial keagamaan. Penyakit-penyakit sosial masyarakat harus kita basmi agar tidak terus mencari korban. Penyakit sosial seperti judi, minuman keras, atau praktik perdukunan, biasanya hilang pada bulan suci. Cara membasminya dengan membuat kegiatan seperti ta'lim rutin atau tabligh akbar agar masyarakat sadar dengan sendirinya. Sehingga mereka tidak berminat melakukan aktivitas kemaksiyatan seperti itu lagi.
Keempat, meningkatkan keharmonisan keluarga. Keluarga adalah unsur terpenting dalam masyarakat. Keharmonisan sebuah keluarga sangat berpengaruh terhadap keharmonisan di masyarakat. Ketika kita berusaha menjaga keharmonisan keluarga, sesungguhnya kita telah ikut berpartisipasi menjaga keharmonisan di masyarakat. Untuk itu, keharmonisan dalam keluarga sebaiknya kita tingkatkan.
Aktivitas di atas adalah wujud khidmat kita kepada masyarakat. Tidak sulit untuk melakukan semuanya, jikalau kita memiliki keinginan yang kuat untuk meraih keutamaan Ramadhan pada kali ini. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita untuk menghidupkan Ramadhan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. [Swadaya]
Shalat Tarawih Bersama Rasulullah SAW
Mukadimmah
Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita memujinya, memohon pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejelekan diri-diri kita dan amal-amal kita.
Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tak seorangpun yang dapat memberi hidayah kepadanya.
Saya bersaksi bahwa tidak yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma ba’d :
Telah terdapat riwayat shahih yang mauquf atas sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu akan tetapi secara hukum marfu’ (sampai kepada) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, bahwa beliau (Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) mengatakan : “Bagaimana dengan kalian jika fitnah yang membuat pikun orang dewasa dan membuat besar anak kecil menyelimuti kalian, bahkan manusia menjadikannya sebagai Sunnah. Jika ditinggalkan sedikit saja darinya. Maka akan dikatakan : “Sunnah telah ditinggalkan ?” Mereka mengatakan : “ Kapan itu ?”. “Jika ulama kalian telah pergi, pembaca Al-Qu’ran semakin, banyak ahli fiqih semakin sedikit, semakin banyak pimpinan kalian, semakin sedikit orang yang jujur, dan dicari manfaat dunia dengan menggunakan amalan akhirat dan dipelajari selain agama”.”( Riwayat ad Darimi 1/64 dengan dua sanad salah satunya shahih dan yang lain hasan, juga Hakim 4/514 dan lainnya)
Saya (Syaikh Albani) berkata : “Hadist ini termasuk tanda-tanda kenabian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan kebenaran risalahnya, karena setiap point dari point-pointnya telah terwujud saat ini. Di antaranya, menyebarnya bid’ah dan manusia terfitnah olehnya sehingga menganggap bid’ah sebagai Sunnah dan menjadikannya sebagai agama yang dianut. Jika ahlusSunnah meninggalkannya kepada Sunnah yang benar-benar jelas dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan dikatakan : “Sunnah telah ditinggalkan ?”.
Inilah yang menimpa kami ahlussunah di Syam. Ketika kami menghidupkan Sunnah shalat tarawih sebelas rakkat dengan menjaga ketenangan dan kekhusyuan dan berbagai dzikir yang didapat dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam semampunya, suatu perkara yng telah ditinggalkan oleh mayoritas orang-orang yang tetap shalat dengan dua puluh rakaat. Akan tetapi mereka tetap berontak, dan bangkit qiyamat mereka ketika kita terbitkan buku kita yang berjudul “Shalatut Tarawih” [Telah dicetak ulang buku ini dengan cetakan kedua oleh Zuhair Syawisy tahun 1405 H, dengan bentuk huruf yang baru akan tetapi percobaan-percobaannya tidak disodorkan kepada saya untuk saya teliti sendiri, hal itu disebabkan sulitnya komunikasi antara Beirut dan Oman, sehingga terdapat sedikit kesalahan cetak, sebagiannya karena mengikuti cetakan yang pertama diantaranya yang ada pada hal (32) dan pada cetakan pertama pada hal (37) – yang berbunyi, pent seperti :”yang shalat dhuhur 5 rakaat dan Sunnah fajar 4 rakaat” yang benar adalah “shalat Sunnah Dhuhur” dengan dalil, kata yang mengikutinya “dan surah Fajar” dan kata-kata yang mendahuluinya serta kontek kalimatnya.
Dan telah memperalat kesalahan cetak ini sebagian ahlil-bid’ah, lalu mendirikan diatasnya istana-istana mereka dalam buku-buku mereka yang akan dusebut nanti, akan tetapi istana mereka itu diatas bibir jurang yang terpuruk.] yang itu merupakan buku kedua dari silsilah buku kita “Tasdidul ishabah ila man zaa’ma nusratal hulafa’ur Rasyidin wa shahabah”,
karena apa yang mereka lihat didalamnya dari hakekat beberapa hal :
1. Bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tidak shalat tarawih lebih dari 11 rakaat.
2. Bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay radhiyallahu ‘anhu dan Tamim ad Dary radhiyallahu ‘anhu untuk mengimami manusia di bulan Ramadhan dengan 11 rakaat sesuai Sunnah yang shahih.
3.Bahwa riwayat : “Sesungguhnya manusia melakukan shalat tarawih di masa Umar di bulan Ramadhan 20 rakaat adalah riwayat lemah”, syadz yakni menyelisihi riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqah (terpercaya) yang mengatakan : “11 rakaat dan bahwa Umar memerintahkan dengannya”.
4. Bahwasanya riwayat yang syadz tersebut seandainya benar, maka mengambil riwayat yang shahih adalah lebih baik karena sesuainya dengan Sunnah dari sisi jumlah, dan tidak didapati pada riwayat itu bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu memerintahkan shalat 20 rakaat, orang-orang saja yang melakukan itu, berbeda dengan riwayat yang shahih, karena didalamnya terdapat bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu memerintahkan shalat dengan 11 rakaat.
5. Juga seandainya benar, tidak berarti kemudian harus mengamalkannya, dan meninggalkan amalan dari riwayat yang shahih yang sesuai dengan Sunnah, dimana yang mengamalkan Sunnah justru dianggap keluar dari jamaah. Bahkan puncak faedah yang ingin didapatkan dari riwayat itu adalah dibolehkannya 20 rakaat dengan pasti dan apa yang selalu dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah lebih utama.
6. Kami telah terangkan juga didalamnya bahwa 20 rakaat tersebut tidak didapatkan dari seorangpun shabat yang mulia satupun.
7. Bathilnya sangkaan bahwa mereka (shahabat -pent) telah bersepakat atas 20 rakaat.
8. Kami terangkan pula dalil yang mewajibkannya selalu melakukannya dengan jumlah yang terdapat dalam Sunnah, dan kami terangkan juga bahwa para ulama yang mengingkari penambahan dari jumlah tersebut, dan lain-lain dari faedah-faedah yang jarang didapatkan terkumpul dalam satu kitab.
Semua itu dengan dalil-dalil yang jelas dari Sunnah yang shahih dan dari atsar (ucapan aau perbuatan salafush shalih- pent) yang dipercaya. Ini merupakan perkara yang menyebabkan sikap berontak membabi-buta dari sekelompok syaikh ahli taqlid, sebagaimana didapati dalam khutbah dan pelajaran-pelajaran mereka, sebagiannya lagi dalam buku-buku yang mereka tulis untuk membantah buku kami terdahulu. Tapi semuanya kosong dari ilmu yang bermanfaat dan hujah yang mendasarinya. Bahkan buku itu dicorat-coret dengan celaan dan cercaan sebagaimana kebiasaan orang-orang yang salah ketika berontak terhadap kebenaran dan para pengikutnya.
Oleh karenanya kami tidak melihat adanya faedah yang besar dengan menghabiskan waktu kita untuk membantah mereka, dan menerangkan cacatnya ucapan mereka, karena umur ini terlalu pendek untuk membahas panjang lebar (masalah tersebut –pent) karena terlalu banyaknya. Semoga Allah memberi hidayah-Nya kepada mereka semuanya. Dan tidak mengapa kita memberikan contoh asal hal itu dengan salah satu dari mereka. Dia menurutku adlah lebih afdhal dan paling berilmu[Yaitu syaikh Ismail Al-Anshary salah seorang pegawai di kantor fatwa di kota Riyadh.]
Akan tetapi ilmu, jika tidak disertai dengan keikhlasan akhlaq yang suci, mudharatnya atas orangnya lebih besar dari manfaatnya, sebagaimana diisyaratkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Permisalan orang yang mengajarkan manusia kebaikan dan melupakan dirinya seperti lentera yang menerangi orang lain tapi membakar dirinya”. (Riwayat Thabrany dan Ad Dhiya’ al Maqdisi dalam kitab Al-Mukhtarah” dari sahabat Jundub dengan sanadnya yang bagus, lihat (shahih Targhib 1/56/127) ).
Orang tersebut telah menulis sebuah buku yang berjudul ”Tashihu Hadist-si Shalati at-Tarawihi ‘isrina rakaatan wa rodhu ‘ala Al-Albany fi Tad’iyfihi” Terjemahnya :“Shahihnya Hadist Shalat Tarawih 20 Rakaat dan Bantahannya Terhadap Al-Albani yang mendhaifkannya”
Dalam buku itu penulis telah keluar dari jalannya para ulama dalam hal melawan hujjah dengan hujjah dan dalil dengan dalil, juga dalam hal kejujuran dalam ucapan, dan menjauhkan pengkaburan pada orang yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Kami tunjukkan pada perkara yang memungkinkan diringkas pada mukadimmah ini [Kemudian beliau menyebutkan 5 contoh dan beliau bantah dengan ilmiyah sehingga tampaklah bagi orang yang adil kuatnya hujjah beliau dan lemahnya dalil-dalil yang membantahnya, dan hampir semuanya berkisar pada masalah penerapan ilmu hadist. - pent].
Saya (Syaikh Al-Albani) berkata :
1. Sesungguhnya setiap orang yang membaca judul tersebut pada risalah / tulisannya, maka akan tergambar dibenaknya bahwa hadist yang marfu’ (sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam) tentang shalat tarawih 20 rakaat adalah disepakati kedhaifannya. Kemudian, apabila dia membaca beberapa lembar halaman awalnya maka akan jelas baginya bahwa atsar yang diriwayatkan dari jalan Yazid bin Khasifah dari Saib bin Yazid bahwa dia berkata : “Mereka (para Sahabat) mendirikan shalat pada zaman Umar bin Khattab pada bulan Ramadhan dengan 20 rakaat.”
Maka berawal dari sini pembaca akan mengetahui bahwa ada suatu (kejanggalan –pent) dalam tulisan ini, demikian pula pada judulnya. Karena dia terang-terangan berbuat tadlis.
Hanya kepada Allah lah kita meminta keselamatan dan ampunan.
2. Termasuk juga di situ dia membold (cetak tebal) tiga halaman yaitu (hal.14-16) terhadap Yazid bin Khasifah yang telah disebutkan, dan penetapannya bahwa dia adalah tsiqah itu dilakukannya untuk membuat ragu para pembaca -yang sungguh sejumlah telah a’immah (ulama) telah mentsiqahkannya- bahwa saya telah menyelisihi mereka semua dengan mendhaifkannya ! Padahal permasalahannya tidaklah demikian. Sungguh saya telah mengikuti mereka (para a’immah dalam men’tsiqah’kannya) sebagaimana akan datang penjelasannya.
3. Bahkan dia tidak sekedar (membuat) keragu-raguan dan tadlis dengannya (akan tetapi lebih dari itu). Jelas tersingkap kedustaan dan penyelisihannya dari kenyataan yang ada. (Pada hal.15) dia berkata : “Sesungguhnya Al-Albani menyangka kedhaifannya”. Ini adalah kedustaan nyata ! Karena sungguh, sebenarnya telah saya jelaskan dalam risalah saya (hal.57) bahwa dia adalah tsiqah!
Puncaknya adalah ucapan saya disitu : “Sesungguhnya dia menyendiri dengan apa-apa yang tidak diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqah. Yang seperti itu, ditolak hadistnya jika menyelisihi orang yang lebih kuat hafalannya dari pada dia; maka (atsar ini) menjadi syadz sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu Musthalah. Dan atsar ini termasuk di sini…”. Perkataan seperti ini, walaupun dianggap sebagai firnah terhadap penstiqahan para ulama, tetapi bukan berarti dia (Yazid) itu dhaif yang harus ditolak (hadistnya) secara mutlak. Bahkan sebaliknya, berati hadistnya diterima secara mutlak kecuali jika menyelisihi (riwayat-riwayat yang ada). Inilah apa yang saya tegaskan pada akhir ucapan yang telah disebutkan : ” Atsar ini termasuk disini…”. Berdasarkan pernyataan inilah perkataan kami berkisar. Maka orang yang mencela perkara tersebut dan menyandarkan suatu perkara yang tidak aku katakan adalah merupakan kelicikannya. Dan Allah lah yang mencatatnya.
4. Syaikh tersebut tidak merasa cukup dengan isyarat yang ditunjukkan kepadanya, ia justru menambahkan manasabkan kepadaku gelar buruk yang lain. Dia berkata (pada hal.22) : “ Tidak sepatutnya bagi orang yang meninggalkan riwayat Yazid bin Khasifah – yang digunakan hujjah oleh para imam semuanya –untuk menerima hujjah dengan riwayat Isa bin Jariyah yang didhaifkan oleh Yahya bin Main… dan. Sesungguhnya aku tidak menggunakan riwayat Isa tersebut sebagai hujjah mutlak, akan tetapi aku mengisyaratkan bahwa ia tidak dapat digunakan sebagai hujjah. Sebagaimana aku katakan (hal. 21): “Sanadnya hasan, disebabkan (adanya) riwayat sebelumnya”.
Karena, seandainya aku berhujjah dengannya, seperti yang diada-adakan oleh Syaikh tersebut (tentu) tidaklah aku katakan : “Dengan riwayat sebelumnya”. Karena kalimat ini merupakan keterangan kuat yang menunjukkan bahwa perawi ini bukan termasuk seorang yang dapat digunakan/diterima riwayatnya. Bahkan ia di sisinya adalah lemah, tetapi digunkan sebagai penguat saja. Sehingga hadistnya menjadi hasan apabila terdapat (hadist lain) yang menguatkannya.
Dan telah didapatkan yaitu hadist yang diisyaratkan dengan perkataanku : “Dengan riwayat sebelumnya”. Yaitu hadist riwayat sebelumnya, yaitu hadist riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata :
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah di bulan Ramadhan, tidak pula pada bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat”. (HR. Bukhary, Muslim dan lainnya)
Apakah Syaikh tersebut termasuk orang-orang yang tidak mengerti ilmu hadist sampai-sampai ia tidak memahami perkataan seperti ini : ”Sanadnya hasan dengan riwayat yang sebelumnya !” Apalagi aku telah menambahi keterangan atasnya ketika kamu kembali mentahrijnya di halaman lain (hal.79-80) dan kami nukil perkataan Al-Haitsami bahwa ia menghasankannya. Lalu aku memberi keterangan dengan perkataan : ”Dan sanadnya dianggap hasan menurutku”. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih mengetahui.
Apakah ini kepura-puraan yang disengaja atau pemalsuan murni yang dikarenakan kedengkian yang ada dalam hatinya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merhamati orang-orang yang mengatakan :
Jika engkau tidak mengetahui maka itu musibah
jika engkau mengetahui, maka musibahnya lebih besar.
Dan yang menunjukkan kepada pembaca bahwa syaikh mengetahui…, perkataannya (hal.46) : Dan telah disebutkan hadist Jabir radhiyallahu ‘anhu :
“Jangan mengambil manfaat sedikitpun dari bangkai”
Sebagai cermin pengekorannya terhadap orang yang menghasankannya, (dia berkata) : “Tidak semestinya bagi Al-Albani untuk melemahkan hadist hasan dikarenakan adanya jalan periwayatan lain yang lemah. Maka sesungguhnya yang demikian itu menyimpang dari persetujuan yang disepakati para imam dalam bidang ini.”
Kalau demikian, maka aku (Syaikh Al-Albani) ketika menghasankan hadist Isa bin Jariyah yang telah lalu dengan penguat hadist Aisyah atasnya, syaikh menyadari dengan sepenuhnya pengetahuan bahwa aku sepakat dalam masalah itu dengan yang disepakati ulama dalam bidangnya. Oleh karena itu, ia tidak mampu menyalahkanku dalam masalah tersebut. Maka dia pun mengadakan pernyataan palsu bahwa aku berhujjah dengannya, untuk mencurahkan kebencian hatinya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghitungnya.
Kemudian pembaca yang mulia bersama kami dapat melihat sepintas permainan syaikh ini terhadap hakekat ilmiyah. Karena jika yang demikian itu tidak selayaknya bagiku (seperti sangkaan) melemahkan hadist Jabir radiyallahu ‘anhu, yaitu :
“Jangan mengambil manfaat sedikitpun dari bangkai”
Karena dia (menurut persangkaanya) mempunyai jalan lain yang dhaif pula menurut pengetahuannya, walaupun karena taklid. Maka apakah patut pula baginya menganggap lemah hadist Jabir yang disebutkan di muka berkenaan dengan shalat Tarawih yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam sebanyak 11 rakaat ? Padahal hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha yang termaktub dalam shahih Bukhary dan Muslim yang dia lihat sendiri !.
Tidaklah ini artinya syaikh bermain diatas dua tali dan menimbang dengan dua neraca ? Maka Allah-lah tempat memohon pertolongan, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka dapat kami katakan sebagai keterangan dari kenyataan yang dilalaikan syaikh Ismail Al-Anshari (semoga Allah memberinya petunjuk) sebagai berikut : “Sesungguhnya telah kami katakan sebelumnya –menurut persangkaannya –adalah sebagai isyarat dariku bahwa jalan ini (yang dinukil dari sebagian mereka yang menghasankannya) akan tetapi kami nyatakan akan kedhaifannya, sedangkan dia sendiri melihat dengan mata kepalanya bahwa disana ada ‘an’anah Abi Az Zubair dari Jabir. Dan jalan lain itu sendiri yang memperkuat yang pertamanya. Karena sesungguhnya ukurannya pada Abi Az Zubair pula”. (nashbu Ar-Raayah 1/22).
Maka, apakah ilmu syaikh dapat menangkap bahwa sebagian dari apa yang disepakati oleh para ulama dalam bidangnya yaitu diperbolehkan menguatkan hadist dhaif dengan jalan hadist itu sendiri dan bukan dengan semisalnya. Ataukah ia mengikuti hawa nafsu dan berusaha membela syaikh walaupun dengan menyelisihi kebenaran. Ataukah dia hanya taqlid seperti Syaukani dalam kitabnya Nail Al Authar yang disana banyak penukilan, penjiplakan dan sedikit tahqiq dan pemeriksaan dalam membicarakan hadist-hadistnya.
Akan tetapi ini tidak menghalangiku (dengan fadhilah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan taufik-Nya) dari menyatakan secara terang-terangan bahwa aku mendapatkan di kemudian hari, penguat yang sangat kuat terhadap hadist Jabir ini dan dengan lafadz yang sama dari hadist riwayat Ibnu ‘Ukaim radhiyallahu ‘anhu yang tidak pernah dilihat seorangpun sebelumku yang telah disebutkan dan diisyaratkan olehnya. Dan hadist ini shahih sanadnya di sisiku seperti yang dapat kalian lihat dalam kitabku Irwa’ul Ghalil 1/78.
Kalau seandainya Syaikh Al-Anshari menghendaki ilmu, nasehat dan bimbingan tidak mengapa menjadikan satu jalan menjadi dua dan sangat baik bagi kami sebagai dalil atas penguat ini. Akan tetapi perkaranya seperti yang dikatakan : “Yang miskin tidak akan dapat memberi sesuatupun”. Sesungguhnya aku telah melihatnya menyebutkan dalam bantahan-nya (hal.48) bahwa hadist Ibnu ‘Ukaim radhiyallahu ‘anhu di sisi Daruquthni. Dan bahwa maknanya sama dengan maknanya hadist Jabir radhiyallahu ‘anhu.
Mengingat aku tidak mengetahui, demia Allah Subhanahu wa Ta’ala –dan aku menyangka dia juga tidak mengetahui- kenapa Daruquthni mengkhususkan penyebutannya sedangkan pengarang-pengarang kitab Sunan lain tidak. Walaupun lafadz mereka sama :
“Jangan mengambil manfaat dari bangkai, kulitnya maupun tulangnya”.
Dan sangkaannya terhadap makna hadist Jabir tidak dapat diterima, karena lebih khusus daripadanya, seperti tampak. Sungguh ia lalai dari lafadz yang merupakan lafadz hadist Jabir dengan huruf yang sama.
Maka segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menunjuki aku –walaupun beberapa saat kemudian- kepadanya, dan tidak seorangpun memergokiku disebabkan kelalaianku yang lalu. Kalau tidak…kami mohon keselamatan dan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia dan akhirat.
5. Syaikh tersebut belum merasa cukup mengada-adakan terhadapku. Sesungguhnya ia telah menasabkan kepadaku (hal.41) pada pembodohan terhadap Salaf. Subhanallah - Maha Suci Engkau Ya Allah ! Ini suatu kedustaan yang sangat besar. Padahal yang benar, sesungguhnya saya tidak punya dosa terhadap syaikh tersebut dan yang semacamnya dari para ahli Taqlid yang hasad, kecuali hanya karena aku mengajak kepada Salafus Shalih dam konsisten dengan madzhabnya, tidak dengan madzhab-madzhab orang-orang tertentu dari mereka. Itulah yang membawa syaikh tersebut untuk menyikapi aku sebagai musuh, yang hasad/dengki dalam rangka mengikuti alur mayoritas ahli taqlid, yang tidak mengenal agama melainkan apa yang ada pada nenek moyang mereka kecuali orang yang Allah lindungi dan mereka sedikit sekali.
Diantara keanehan syaikh ini, dia telah melewati seluruh masalah-masalah yang diisyaratkan diatas dan telah kita teliti dengan benar penjelasannya. Dan aku tidak ragu bahwa dia sependapat dengan kami pada sebagiannya minimal, atau bahkan kebanyakannya. Tapi dia tidak menyebutkan sikapnya terhadap riwayat-riwayat tersebut. Contohya ucapan kami : “Sesungguhnya bukan merupakan konsekwensi keshahihan 20 rakaat itu, meninggalkan amalan dari riwayat lain yang sesuai dengan hadist Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam tidak menambah baik di bulan Ramadhan atau yang lainnya lebih dari 11 rakaat.”
Apakah lebih utama mengamalkan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengamalkan apa yang dilakukan manusia di zaman Umar ? Itupun seandainya riwayat tersebut shahih dari perbuatan mereka. ?!
Syaikh tersebut tidak menampakkan sikapnya tentang hal itu, karena jika dia menguatkan perkara yang menyelisihi Sunnah, akan tampak hakekatnya di kalangan Ahlussunnah, tapi kalau menguatkan Sunnah akibatnya akan sesuai dengan Al-Albani, dan ini adalah sesuatu yang tidak diperkenankan oleh dirinya karena sebuah sebab atau lebih yang tidak tersembunyi lagi pada pembaca yang cerdas.
Ini adalah sebuah contoh dari banthan-bantahan yang kami lihat membantah buku kita yang terdahulu yaitu “Shalatut Tarawih” padahal yang (tersebar diatas –pent) adalah bantahan yang paling bagus diantara yang lain. Namun demikian pembaca telah mengetahui beberapa contoh yang ada padanya yang darinya nampak jelas kosongnya dari sikap adil dan jauh dari jalan para ulama yang tidak menginginkan, kecuali keterangan hakekat suatu masalah. Dan jika ini dari orang yang paling baik dan berilmu diantara mereka maka bagaimana dengan yang lain yang tidak memiliki ilmu dan akhlaq.
Dan karena buku kami tersebut (Shalat Tarawih) telah tercetak dan melewati masa yang panjang, sedang kebutuhan menuntut untuk dicetak ulang, dan dahulu cara pemaparannya telah mencapai maksud serta tujuannya yang terpenting yaitu memperingatkan mayoritas manusia kepada Sunnah dalam shalat tarawih serta membantah orang-orang yang menyelisihi kami, sehingga tersebarlah Sunnah ini di banyak masjid-masjid di Syiria dan Yordania dan selain keduanya dari negeri-negeri Islam.
Dan Alhamdulillah yang dengan nikmat-Nyalah perkara-perkara yang baik itu menjadi sempurna. Oleh karenanya saya mempunyai ide meringkas [Ringkasan itu berjudul “Qiyamu Ramadhan” yang kami beri judul dalam bahasa indonesia ini dengan “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah shallallhu ‘alihi wa sallam, pent] dengan cara yang ilmiah murni, Tanpa aku menyinggung seorang pun untuk membantahnya sebagaimana ucapan orang (sampaikan ucapanmu dan berjalanlah terus), yakni menulis setiap faedah ilmiyah yang ada dalam kitab asli dengan menambah faedah-faedah lain untuk menyempurnkannya. Dan Allah lah Yang Maha Suci yang dimohon untuk memberi manfaat dengan ringkasan ini sebagaimana memberikan manfaat dengan yang sebelumnya, dan agar memberikan ganjaran darinya, sungguh Dia adalah Dzat yang paling derma tatkala diminta.
(Dinukil dari buku terjemah kitab "Qiyamu Ramadhan", karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”, Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Mukaddimmah Cetakan Pertama”, Hal : 14 - 37, Penerbit “Cahaya Tauhid Press”)
Jumlah Rakaat Tarawih
Pada zaman Nabi sholat malam di musim Ramadan tidak dinamakan sebagai sholat tarawih sebaliknya dikenali sebagai qiam Ramadan. Selepas kewafatan Nabi barulah ia dikenali sebagai tarawih. Hal ini disebabkan umat Islam di Mekah sepeninggalan Nabi bersholat tarawih sebanyak empat rakaat dengan dua salam. Selepas itu mereka beristirahat dengan mengelilingi Kaabah sambil bertasbih dan bertakbir. (Fiqh Syafi'i, Ust. Idris Ahmad SH, jil. 1, hal 355)
Tarawih Di Zaman Nabi
Rasulullah menggalakkan umat Islam menghidupkan malam Ramadan dengan sholat. Abu Hurairah meriwayatkan sabda Nabi, "Barang siapa melakukan qiyam pada bulan Ramadan kerana iman dan mencari pahala, maka diampuni untuknya apa yang telah lalu daripada dosa-dosanya"
Maksud qiyam Ramadan menurut Imam Nawawi ialah melaksanakan sholat tarawih. Riwayat ini menunjukkan solat tarawih mendatangkan maghfirat atau keampunan serta menggugurkan dosa-dosa dengan syarat ia dilakukan penuh keimanan serta membenarkan pahala-pahala yang dijanjikan. (Fathul Bari 4/250; al-Ijabat al-Bahiyyah 18; al-Muntaqa 4/49-51)
Berhubung dengan jumlah rakaat sholat sunat Nabi di musim Ramadan, Aisyah pernah ditanya, "Bagaimana sholat Rasul pada bulan Ramadan?" Beliau menjawab, "(Nabi) tidak pernah menambah, sama ada di bulan Ramadan atau di bulan-bulan yang lain, lebih daripada sebelas rakaat. Baginda bersolat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian Baginda bersolat tiga rakaat." (Riwayat Bukhari)
Dalam hadis ini dinyatakan bahawa Nabi bersholat sebanyak 11 rakaat dan " Ia bermaksud Nabi melakukan solat empat rakaat dengan dua kali salam, kemudian beristirahat. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah yang berkata,Baginda bersolat empat rakaat". "Adalah Rasulullah melakukan solat selepas selesainya solat Isyak sehingga waktu fajar sebanyak sebelas rakaat. (Baginda) mengucapkan salam pada setiap dua rakaat...". (Riwayat Muslim)
Sholat sunat tarawih khusus di musim Ramadan memang pernah dilakukan Nabi ada kalanya secara berjemaah. Mengikut sahabat Nu'man bin Basyir, "Kami melaksanakan qiamullail (tarawih) bersama Rasulullah pada malam 23 Ramadan sehingga sepertiga malam. Kemudian kami bersolat lagi bersama baginda pada malam 25 Ramadan sehingga sampai ke pertengahan malam. Kemudian baginda memimpin lagi pada malam 27 Ramadan sehingga kami menyangka tidak akan sempat memakan sahur." (Hadis sahih riwayat Ahmad, al-Hakim dan Nasaii)
Demikian juga yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Zar, "Kami berpuasa, tetapi Nabi tidak memimpin kami untuk melakukan solat (tarawih) sehingga Ramadan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah mengimami kami bersholat sehingga lewat sepertiga malam. Kemudian baginda tidak keluar pada malam keenam (sebelum Syawal). Pada malam kelima baginda memimpin solat sehingga lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah, "Semoga engkau menambah lagi untuk kami pada sisa-sisa malam ini?" Maka baginda bersabda, "Barang siapa bersolat bersama imam sehingga selesai ditulis untuknya seolah-olah dia bersolat satu malam." Kemudian baginda tidak memimpin sholat lagi sehingga Ramadan berbaki tiga hari lagi. Maka baginda memimpin kami bersholat pada malam ketiga itu. Baginda mengajak keluarga dan isterinya bersama-sama. Baginda mengimami sehingga kami khawatir tidak mendapat falah (iaitu sahur)". (Hadis sahih riwayat Tirmizi, Ibn Majah, Abu Daud, Nasaii dan Ahmad)
Nabi juga meredai sholat (tarawih) yang dilakukan secara berjemaah oleh sebahagian sahabat pada malam Ramadan. Sehubungan dengan ini, Tsa'labah bin Abi Malik al-Qurazi meriwayatkan, "Pada suatu malam di musim Ramadan Rasulullah keluar rumah, kemudian beliau melihat sekumpulan orang di satu penjuru masjid sedang melaksanakan solat. Baginda lalu bertanya, yang sedang mereka lakukan?' Seorang menjawab, Rasulullah, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak pandai al-Quran, sedang Ubay bin Kaab ahli al-Quran maka mereka solat (sebagai makmum) kepada Ubay'. Baginda lalu bersabda, telah berbuat baik dan telah melakukan yang benar.' Baginda tidak membencinya"
Hal ini diperkukuhkan oleh satu riwayat yang lain daripada Ubai bin Kaab.. Beliau berkata, "Ya Rasulullah, ada sesuatu yang aku lakukan malam tadi (Ramadan). Baginda bertanya, itu wahai Ubai?' Ubai menjawab, wanita di rumahku berkata: Sesungguhnya kami tidak (pandai) membaca al-Quran. Bagaimana kalau kami solat bersamamu? Maka aku bersolat dengan mereka sebanyak lapan rakaat dan (kemudian) berwitir'. Maka hal itu menjadi sunah yang diredai. Baginda tidak berkata apa-apa." (Riwayat Abu Ya'la, Tabrani dan Ibn Nasir. Di hasankan oleh al-Haithami dan Albani)
Dalil-dalil ini menunjukkan s olat tarawih khusus di musim Ramadan pernah dilakukan Nabi dan para sahabat ada kalanya secara berjemaah.
Adapun hadis-hadis yang menceritakan bahawa Nabi bertarawih sebanyak 20 rakaat, kesemuanya adalah tidak sahih. (Fathul Bari 4/254; al-Hawi. 1/413; al-Fatawa al-Hadithiyah 1/195)
Tarawih Di Era Selepas Nabi
Para sahabat Rasulullah bers olat tarawih di masjid Nabawi pada malam-malam Ramadan secara terpancar-pancar.
Imam az-Zuhri berkata, "Ketika Rasulullah wafat, orang-orang bersolat tarawih dengan cara seperti itu. Kemudian pada masa Abu Bakar caranya tetap sama seperti itu dan demikian juga di peringkat awal pemerintahan khalifah Omar".
Tarawih 8 Rakaat dan 3 Witir
Akhirnya di era khalifah Omar al-Khattab beliau mengambil satu pendekatan yang menarik. Berhubung dengan ini Abdul Rahman bin Abdul Qari' berkata, "Saya keluar ke masjid bersama Omar di bulan Ramadan. Ketika itu orang-orang bersolat secara berpancaran.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 14 Hijrah.
Dalam riwayat yang lain oleh Saib bin Yazid, beliau berkata, "Omar mengarahkan Ubai bin Kaab dan Tamim Ad-Dari mengimami solat tarawih pada bulan Ramadan dengan sebelas rakaat. Maka dibacanya ratusan ayat sehingga kami bersandar pada tongkat karena sangat lamanya berdiri. Maka kami tidak pulang dari tarawih melainkan ketika menghampiri fajar." (Imam Suyuthi dan Subki menilai riwayat ini sebagai tersangat sahih)
Tarawih 20 Rakaat dan 3 Witir
Al-Baihaqi dalam as-Sunan dan al-Firyabi dalam as-Siyam meriwayatkan bahawa di zaman khalifah Omar di bulan Ramadan solat tarawih dilakukan sebanyak 20 rakaat. (Riwayat ini disahihkan oleh Imam Nawawi, al-Zaila'i, al-Aini, Ibn al-Iraqi, as-Subki, as-Suyuthi dan yang lain-lain)
Dalam riwayat yang lain oleh Yazid Ibn Ruman maula sahabat Zubair bin al-Awwam, beliau mengatakan bahawa masyarakat (Madinah) di zaman Omar melakukan qiyam Ramadan sebanyak 23 rakaat. Yazid Ibn Ruman merupakan seorang ahli al-Quran di Madinah yang dipercayai. (Riwayat Malik, al-Firyabi, Ibn Nasr dan al-Baihaqi)
Berhubung dengan sholat tarawih 11 rakaat dan 23 rakaat yang berlaku di zaman Omar al-Khattab, al-Tharthusi (451-520 H) berkata, "Para sahabat kami (Malikiyah) menjawab dengan jawapan yang benar yang boleh menyatukan kesemua riwayat. Mereka berkata, Omar di peringkat awalnya memerintahkan agar mereka melakukan 11 rakaat dengan bacaan yang amat panjang. Apabila masyarakat tidak lagi kuat untuk melakukannya, Omar memerintahkan agar dilakukan 23 rakaat demi meringankan lamanya bacaan'..."
Terdapat juga riwayat yang menunjukkan bahawa solat tarawih 20 + 3 juga dilakukan di Mekah pada zaman selepas Omar al-Khattab. Imam Atha' ibn Abi Rabah maula Quraisy, (lahir di era pemerintahan Uthman bin Affan dan pernah menjadi mufti Mekah) berkata, "Saya telah mendapati orang-orang (Mekah) pada malam Ramadan bersolat 20 rakaat dan 3 rakaat witir". (Fathul Bari 4/235)
Tarawih 36 Rakaat dan 3 Witir
Berhubung dengan ini Imam Nafi' al-Qurasyi meriwayatkan, "Saya mendapati orang-orang (Madinah) bersolat pada bulan Ramadan 36 rakaat dan berwitir 3 rakaat." (al-Hawadits 141; al-Hawi 1/415)
Daud Ibn Qais pula berkata, "Saya mendapati orang-orang di Madinah pada masa pemerintahan Aban ibn Uthman ibn Affan al-Umawi (iaitu Amir Madinah, wafat pada tahun 105 H) dan di era pemerintahan Khalifah Omar Abdul Aziz melakukan qiyam Ramadan sebanyak 36 rakaat ditambah dengan 3 witir." (Fathul Bari 4/253)
Imam Syafie pernah berkata, "Saya menjumpai orang-orang di Mekah bersolat 23 rakaat dan saya melihat penduduk Madinah bersolat 39 rakaat dan tidak ada masalah sedikit pun tentang hal itu." (Sunan Tirmizi 151; Fath al-Aziz 4/266; Fathul Bari 4/23)
Jika dihimpunkan pendapat para ulama berhubung isu ini terdapat perbezaan pendapat yang cukup banyak, antaranya:
1- Sebelas rakaat (8 + 3 witir), mengikut riwayat Malik dan Said bin Mansur.
2- Tiga belas rakaat (2 rakaat ringan + 8 + 3 witir), mengikut riwayat Ibn Nasr dan Ibn Ishaq, atau (8 + 5) menurut riwayat Muslim.
3- Dua puluh satu rakaat (20 + 1), mengikut riwayat Abdul Razzaq.
4- Dua puluh tiga rakaat (20 + 3), mengikut riwayat Malik, Ibn Nasr dan al-Baihaqi. Inilah pegangan dalam mazhab Abu Hanifah, Syafie, at-Thauri, Ahmad, Abu Daud dan Ibn Mubarak.
5- Tiga puluh sembilan rakaat (36 + 3) atau (38 + 1), mengikut mazhab Maliki.
6- Empat puluh satu rakaat (38 + 3) atau (36 +5), mengikut riwayat Ibn Nasr dari kesaksian Salih Mawla al-Tau'amah yang disebutkan dalam al-Mughni 2/167.
7- Empat puluh sembilan rakaat (40 + 9). 40 rakaat tanpa witir adalah riwayat dari al-Aswad Ibn Yazid.
8- Tiga puluh empat rakaat tanpa witir, ialah amalan
9- Dua puluh empat rakaat tanpa witir, mengikut Said bin Jubair.
Bagaimana Ulama Menilai Perbezaan Ini
Imam Ibn Hibban (meninggal tahun 354 H) berkata, "Sesungguhnya tarawih itu pada mulanya adalah 11 rakaat dengan bacaan yang sangat panjang sehingga memberatkan mereka. Kemudian mereka meringankan bacaan dan menambah bilangan rakaatnya menjadi 23 rakaat dengan bacaan yang sedang. Setelah itu mereka meringankan lagi bacaan dan menjadikan tarawih 36 rakaat tanpa witir." (Fiqhus Sunnah, 1/174)
Imam al-Subki berkata, "Tarawih adalah termasuk nawafil (perkara sunat). Terserah kepada masing-masing, sama ada ingin bersolat sedikit atau banyak. Boleh jadi mereka terkadang memilih bacaan panjang dengan bilangan rakaat yang sedikit, iaitu 11 rakaat. Terkadang mereka memilih bilangan rakaat yang banyak, iaitu 20 rakaat, dengan bacaan yang panjang, lalu amalan ini terus berjalan." (Al-Hawi, 1/417)
Imam Ibn Taimiyah pula berkata, "(Seseorang) boleh bersolat tarawih 20 rakaat sebagaimana yang masyhur dalam mazhab Ahmad dan Syafie. Boleh juga bersolat 36 rakaat sebagaimana yang ada dalam mazhab Malik. Boleh bersolat 11 rakaat atau 13 rakaat. Kesemuanya adalah baik. Banyaknya jumlah rakaat atau sedikitnya bergantung kepada lama atau pendeknya bacaan." Beliau juga berkata, "Yang paling utama ialah perbezaan ini adalah kerana mengambil kira perbezaan keadaan orang yang solat.. Jika mereka kuat mereka boleh melakukan 10 rakaat ditambah dengan 3 rakaat witir sebagaimana yang diperbuat oleh Rasul di bulan-bulan Ramadan dan di luarnya, maka inilah yang lebih utama. Jika mereka mampu mereka boleh melakukan 20 rakaat, maka ini adalah afdal dan inilah yang dilakukan oleh kebanyakan kaum Muslimin, karena ia adalah pertengahan antara 10 dan 40. Dan jika ia seseorang bersolat dengan 40 rakaat, maka itu pun boleh, atau dengan yang lainnya ia juga diizinkan. Barang siapa menyangka bahawa qiyam Ramadhan itu terdiri dari bilangan tertentu, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, maka dia telah salah." (Majmuk al-Fatawa 23/113; al-Ijabat al-Bahiyyah 22; Durus Ramadhan 48)
Hal ini dipersetujui oleh al-Hafiz Ibn Hajar. Beliau berkata, "Hal tersebut dapat difahami sebagai variasi sesuai dengan situasi serta keadaan manusia. Kadang-kadang yang sesuai ialah 11 rakaat, atau 21, atau 23 rakaat, bergantung pada persiapan dan kesanggupan mereka. Kalau dilakukan 11 rakaat, mereka boleh memanjangkan bacaan... Jika 23 rakaat, mereka boleh meringankan bacaan supaya tidak membebankan jemaah." (Fathul Bari 4/253)
Syeikh Abdul Aziz Ibn Bazz merumuskan pandangan-pandangan ini dengan berkata, "Antara perkara yang menjadi kesamaran bagi sebahagian orang ialah berhubung solat tarawih Sebahagian mereka mengira bahawa tarawih tidak boleh kurang daripada 20 rakaat. Sebahagian yang lain mengira bahawa tarawih tidak boleh lebih daripada 11 rakaat atau 13 rakaat. Kesemua ini semua adalah persangkaan yang tidak tepat, bahkan salah serta bertentangan dengan dalil. Hadis-hadis sahih daripada Rasulullah menunjukkan solat malam itu adalah muwassa' (iaitu fleksibel)..
Bukhari dan Muslim)....
Justeru pada zaman Omar solat dilakukan 23 rakaat dan pada waktu yang lain dilakukan 11 rakaat. Kesemua itu adalah sahih daripada Omar dan para sahabat di zamannya. Dan sebahagian ulama salaf bersolat tarawih sebanyak 36 rakaat ditambah dengan witir 3 rakaat. Sebahagian yang lain bersolat sebanyak 41 rakaat. Semua ini dikisahkan oleh Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah dan ulama yang lain.... Barang siapa merenung sunah Nabi dia pasti mengetahui, bahawa yang paling afdal ialah bersolat sebanyak 11 rakaat atau 13 rakaat sama ada di bulan Ramadan atau di bulan-bulan yang lain. Hal ini disebabkan ia sesuai dengan perbuatan Nabi dan itulah kebiasaannya di samping ia adalah lebih ringan bagi jemaah dan lebih dekat kepada khusyuk' dan tamakninah. Namun, barang siapa menambah (rakaat) maka tidak mengapa baginya dan tidak makruh". (Al-Ijabat al-Bahiyyah 17-18; Fatawa Lajnah Daimah 7/194-198)
Jelas sekali para ulama berlapang dada berdepan perbezaan pendapat berhubung solat tarawih ini. Mereka tidak mengutuk antara satu sama lain sebaliknya mencari satu jalan tengah yang dapat meletakkan kepelbagaian ini pada perspektifnya yang betul di bawah sinaran Sunah.
Kesimpulan
Bulan Ramadan merupakan bulan keberkatan dan bukannya bulan pertengkaran. Ia adalah bulan ibadat dan bukannya bulan berdebat dan mengumpat. Umat Islam sepatutnya menggunakan Ramadan untuk mempertingkatkan pahala bukannya dosa.
Tarawih merupakan amalan sunat yang istimewa di musim Ramadan. Agama Islam menuntut umatnya melaksanakan ibadah ini sebaik mungkin mengikut kemampuan masing-masing. Jika jumlah rakaat tarawih yang dilakukan seseorang berbeza dengan orang lain, dia sepatutnya tidak cepat menghukumkan orang lain sebagai salah atau ahli bidaah. Ulama sendiri berpendapat bahawa Sunah fleksibel tentang jumlah rakaat bagi solat tarawih justeru bersikap keras tentangnya adalah menyalahi Sunah. Apatah lagi di
Walau bagaimanapun kita mengakui bahawa solat tarawih yang lebih utama adalah yang sesuai dengan Sunah Nabi, iaitu berjumlah 11 rakaat.. Hadis-hadis menunjukkan Rasulullah telah melakukan dan mengimami solat tarawih sebanyak sebelas rakaat. Dalilnya ialah jawapan Aisyah (ketika ditanya oleh Abu Salamah Abdul Rahman berhubung solat Nabi khusus di malam Ramadan), iaitu, "Sesungguhnya baginda tidak pernah menambah pada bulan Ramadan atau pada bulan yang lainnya. lebih daripada sebelas rakaat." (Bukhari-Muslim)
Juga berpandukan hadis Jabir bin Abdullah yang berkata, "Rasulullah solat dengan kami pada bulan Ramadan delapan rakaat dan witir. Ketika malam berikutnya kami berkumpul di masjid dengan harapan beliau solat dengan kami dan kami terus berada di masjid sehingga pagi, kemudian kami bertanya, "Ya Rasulullah, malam tadi kami berkumpul di masjid dengan harapan (tuan) bersolat bersama kami." Baginda bersabda, "Sesungguhnya aku khawatir ia diwajibkan ke atas kamu." (Riwayat Tabrani, Ibn Hibban dan Ibn Khuzaimah, dihasankan oleh Albani)
Nabi juga memperakui solat berjemaah delapan rakaat yang dilakukan oleh sahabat di malam Ramadan. Perakuan ini menjadi Sunah untuk diikuti. Ubai bin Kaab pernah berkata, "Ya Rasulullah, ada sesuatu yang aku lakukan malam tadi (Ramadan). Baginda bertanya, itu wahai Ubai?' Ubai menjawab, wanita di rumahku berkata: Sesungguhnya kami tidak (pandai) membaca al-Quran. Bagaimana kalau kami solat bersamamu? Maka aku bersolat dengan mereka sebanyak lapan rakaat dan (kemudian) berwitir'. Maka hal itu menjadi sunah yang diredai. Baginda tidak berkata apa-apa." (Riwayat Abu Ya'la, Tabrani dan Ibn Nasir. Di hasankan oleh al-Haithami dan Albani)
Tambahan daripada itu, di zaman khalifah Omar al-Khattab riwayat yang paling sahih menunjukkan bahawa tarawih dilakukan sebanyak sebelas rakaat. Saib bin Yazid berkata, "Omar mengarahkan Ubai bin Kaab dan Tamim Ad-Dari mengimami solat tarawih pada bulan Ramadan dengan sebelas rakaat. Maka dibacanya ratusan ayat sehingga kami bersandar pada tongkat karena sangat lamanya berdiri. Maka kami tidak pulang dari tarawih melainkan ketika menghampiri fajar." (Imam Suyuthi dan Subki menilai riwayat ini sebagai tersangat sahih. Albani menilai riwayat ini sebagai sangat sahih) Justeru Imam Malik berkata, "Yang saya pilih untuk diri saya untuk qiyam Ramadan ialah solat yang diperintahkan oleh Omar, iaitu 11 rakaat, dan itulah (cara) solat Nabi. 11 rakaat adalah dekat dengan 13 rakaat." (al-Hawadith 141)
Namun bersikap fanatik dengan 11 rakaat adalah dilarang kerana terdapat riwayat-riwayat lain yang sahih berhubung bilangan rakaat solat tarawih yang melebihi 11 rakaat dilakukan di era sahabat-sahabat Nabi
Benarlah Syeikh Abdul Aziz Ibn Bazz ketika beliau berkata, "Antara perkara yang menjadi kesamaran bagi sebahagian orang ialah berhubung solat tarawih Sebahagian mereka mengira bahawa tarawih tidak boleh kurang daripada 20 rakaat. Sebahagian yang lain mengira bahawa tarawih tidak boleh lebih daripada 11 rakaat atau 13 rakaat. Kesemua ini semua adalah persangkaan yang tidak tepat, bahkan salah serta bertentangan dengan dalil." (Al-Ijabat al-Bahiyyah 17-18; Fatawa Lajnah Daimah 7/194-198)
Sudah pasti perpaduan umat dan bukannya perpecahan perlu diutamakan berdepan isu-isu ranting seperti ini. Akhirnya yang dicari dalam sesebuah solat ialah keikhlasan, kekhusyukan, tamakninah dan keredaan Ilahi. Wassalam.
Rujukan Utama:
1- Shalat Tarawih Nabi & Salafushshalih, Abu Hamzah al-Sanuwi (30 Okt. 2004), nukilan dariamza majalah As-Sunnah 07/VII/1424 H.
2- At-Tamhid, lbn Abdil Barr, tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha, Maktabah Abbas Ahmad Al-Bazz, Mekkah.
3- Al-Hawadits Wal Bida', Abu Bakar At-Tharthusi, tahqiq Abdul Majid Turki, Darul Gharb Al-Islami.
4- Al-Hawi Li Al-Fatawa, As-Suyuthi, Darul Fikr,
5- Solat At-Tarawih, Albani, Al-Maktab Al-Islami,
6- Fatwa Lajnah Daimah, tartib Ahmad Ad-Duwaisi, tartib Adil Al-Furaidan.
7- Al-Ijabat Al-Bahiyyah, Al-Jibrin, I'dad dan takhrij oleh Saad As-Sa'dan, Darul Ashimah, Riyadh.
8- Durus Ramadhan, Salman Al-Audah, Darul Wathan,
9- Majmuk Fatawa, Ibn Taimiyah.
10- Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq, Darul Fikr,
Pencurian Jasad Nabi Muhammad SAW
Sebagaimana tlah kita ketahui bahwa hampir dapat dipastikan bahwa sebagian besar orang yang berziarah ke masjid Nabawi pasti tak pernah lupa untuk menghampiri makam Rasulullah yang diapit oleh makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Mereka berbondong-bondong menuju makam sang nabi Fenomenal itu. Untuk sekedar melihat atau berdoa.
Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kondisi umat islam pada masa dinasti Abbasiyah di Baghdad dimana kondisi umat Islam yang semakin melemah dan berdiri beberapa kerajaan Islam di beberapa daerah. Tentunya hal ini tak di sia-siakan begitu saja oleh orang-orang kafir laknatullah yang merasa kesempatan emas mencoreng wajah umat Islam dan membuat umat Islam jatuh ada di depan mata. Karena ternyata diketahui diam-diam mereka telah menyusun rencana untuk mencuri jasad Nabi Muhammad. Setelah terjadi kesepakatan oleh para penguasa Eropa, mereka pun mengutus dua orang untuk menjalankan misi keji itu. Misi itu mereka laksanakan bertepatan dengan musim haji. Dimana pada musim itu banyak jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Kedua orang spionase ini menyamar sebagai jamaah haji dari Andalusia yang memakai pakaian khas Maroko. Kedua spionase itu ditugaskan melakukan pengintaian awal kemungkinan untuk mencari kesempatan mencuri jasad Nabi SAW.
Setelah melakukan kajian lapangan, keduanya memberanikan diri untuk menyewa sebuah penginapan yang lokasinya dekat dengan makam Rasulullah. Mereka membuat lubang dari dalam kamarnya menuju makam Rasulullah.
Belum sampai pada akhir penggalian, rencara tersebut telah digagalkan oleh Allah melalui seorang hamba yang akhirnya mengetahui rencana busuk itu Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki, adalah seorang hamba sekaligus penguasa Islam kala itu yang mendapatkan petunjuk melalui mimpi akan ancaman terhadap makam Rasulullah.
Sultan mengaku bermimpi bertemu dengan Rasulullah sambil menunjuk dua orang lelaki berambut pirang dan berujar: “ Wahai Mahmud, selamatkan jasadku dari maksud jahat kedua orang ini.” Sultan terbangun dalam keadaan gelisah lalu beliau melaksanakan sholat malam dan kembali tidur. Namun, Sultan Mahmud kembali bermimpi berjumpa Rasulullah hingga tiga kali dalam semalam.
Malam itu juga Sultan segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan dari damaskus ke madinah yang memakan waktu 16 hari, dengan mengendarai kuda bersama 20 pengawal serta banyak sekali harta yang diangkut oleh puluhan kuda. Sesampainya di Madinah, sultan langsung menuju Masjid Nabawi untuk melakukan sholat di Raudhah dan berziarah ke makam Nabi SAW. Sultan bertafakur dan termenung dalam waktu yang cukup lama di depan makam Nabi SAW.
Lalu menteri Jamaluddin menanyakan sesuatu, “Apakah Baginda Sultan mengenal wajah kedua lelaki itu? “Iya”, jawab Sultan Mahmud.
Maka tidak lama kemudian Menteri Jamaludin mengumpulkan seluruh penduduk Madinah dan membagikan hadiah berupa bahan makanan sambil mencermati wajah orang yang ada dalam mimpinya. Namun sultan tidak mendapati orang yang ada di dalam mimpi itu diantara penduduk Madinah yang datang mengambil jatah makanan. Lalu menteri Jamaluddin menanyakan kepada penduduk yang masih ada di sekitar Masjid Nabawi. “Apakah diantara kalian masih ada yang belum mendapat hadiah dari Sultan?”
Tidak ada, seluruh penduduk Madinah telah mendapat hadiah dari Sultan, kecuali dua orang dari Maroko tersebut yang belum mengambil jatah sedikitpun. Keduanya orang saleh yang selalu berjamaah di Masjid Nabawi.” Ujar seorang penduduk.
Kemudian Sultan memerintahkan agar kedua orang itu dipanggil. Dan alangkah terkejutnya sultan, melihat bahwa kedua orang itu adalah yang ia lihat dalam mimpinya. Setelah ditanya, mereka mengaku sebagai jamaah dari Andalusia Spanyol. Meski sultan sudah mendesak bertanya tentang kegiatan mereka di Madinah. Mereka tetap tidak mau mengaku. Sehingga sultan meninggalkan kedua lelaki itu dalam keadaan penjagaan yang ketat.
Kemudian sultan bersama menteri dan pengawalnya pergi menuju ke penginapan kedua orang tersebut. Sesampainya di rumah itu yang di temuinya adalah tumpukan harta, sejumlah buku dalam rak dan dua buah mushaf al-Qur’an. Lalu sultan berkeliling ke kamar sebelah. Saat itu Allah memberikan ilham, sultan Mahmud tiba-tiba berinisiatif membuka tikar yang menghampar di lantai kamar tersebut. Masya Allah, Subhanallah, ditemukan sebuah papan yang di dalamnya menganga sebuah lorong panjang, dan setelah diikuti ternyata lorong itu menuju ke makam Nabi Muhammad.
Seketika itu juga, sultan segera menghampiri kedua lelaki berambut pirang tersebut dan memukulnya dengan keras. Setelah bukti ditemukan, mereka mengaku diutus oleh raja di Eropa untuk mencuri jasad Nabi SAW. Pada pagi harinya, keduanya dijatuhi hukum penggal di dekat pintu timur makam Nabi SAW. Kemudian sultan Mahmud memerintahkan penggalian parit di sekitar makam Rasulullah dan mengisinya dengan timah. Setelah pembangunan selesai, sultan Mahmud dan rombongan pulang ke negeri Syam untuk kembali memimpin kerajaannya