Penulis : Mulyadi Al-Fadhil
KotaSantri.com :
Takabur atau lebih dikenal dengan sombong adalah perbuatan menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang dalam dirinya ada sebesar biji dzarrah saja ketakaburan (kesombongan)
Perilaku sombong adalah perilaku yang tidak disukai oleh siapa pun, termasuk kita pasti tidak suka melihat orang yang sombong. Masalahnya, kita kadang tidak sadar, mungkin saja kita pernah berperilaku sombong kepada orang lain. Kita harus mewaspadai perilaku sombong yang ada pada diri kita. Karena Allah SWT benar-benar membenci kepada orang yang sombong. Hanya Allah saja yang berhak untuk sombong.
Allah SWT berfirman, "Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat : "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (QS. Al-Baqarah [2] : 34).
Dari ayat di atas, jelaslah keengganan iblis untuk tiduk mengikuti perintah Allah bukan karena tidak tahu Allah SWT sebagai tuhannya, melainkan karena ia takabur. Iblis tidak mau memberi hormat kepada Nabi Adam AS yang ia anggap tidak lebih mulia dari dirinya. Akibatnya, Allah mengusirnya dari surga. Sifat takabur iblis inilah yang membuat benih-benih kesombongan merebak di muka bumi.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Fawaidul Fawaid mengatakan, "Ada tiga penyakit pokok pada diri manusia. Bila manusia tidak berusaha untuk melawannya, niscaya penyakit ini akan menghinggapinya. Pertama, takabur. Penyakit inilah yang membuat iblis diusir Allah dari surga. Kedua, serakah. Penyakit hati yang satu ini membuat Adam AS diusir Allah dari surga. Ketiga, dengki. Inilah yang membuat anak Adam yamg satu membunuh anak Adam yang lainnya."
Allah SWT mengingatkan kita dengan firman-firmanNya dalam Al-Qur'an agar kita tidak terjerembab kepada kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Bahkan, kita diperintah untuk mengambil pelajaran dari perilaku salah yang telah dilakukan orang-orang terdahulu agar kita tidak berbuat kesalahan yang sama.
Firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 78 ini mengabarkan bagaimana Qarun yang kaya lagi sombong dibinasakan oleh Allah SWT. FirmanNya, "Qarun berkata : "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?"
Akibatnya Qarun dibinasakan oleh Allah dan ditenggelamkan ke dalam perut bumi (QS. Al-Qashash [28] : 81). Fir'aun yang angkuh mengaku sebagai Tuhan juga diazab Allah dengan cara ditenggelamkan ke dalam laut (QS. Yunus [10] : 90-91).
Allah SWT jelas-jelas melarang makhlukNya untuk sombong. Hal ini sebagaimana firmanNya dalam surat Luqman ayat 18, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
Berbuat sombongkah kita? Sombong ternyata bukan dominasi orang yang kaya, orang yang berpangkat, memiliki jabatan, atau bertabur jasa dan pengahargaan saja, orang miskin pun berpeluang untuk sombong. Karena miskin dan kaya ukurannya tidak hanya dari harta dan kemewahan, tapi juga dari ilmu, pemahaman, dan juga amal.
Oleh karena itu, peluang bagi manusia untuk berbuat sombong memang terbuka lebar. Sabda Nabi, "Ada tiga golongan di hari kiamat nanti tidak ditanya (dihisab) oleh Allah dan langsung masuk neraka, mereka adalah kakek-kakek pezina, pemimpin yang pendusta, dan orang miskin yang sombong." (HR. Ahmad).
Peluang sombong kita begitu terbuka lebar. Harta kekayaan yang melimpah, pangkat dan jabatan yang tinggi, ketampanan dan kecantikan, serta kecerdasan, akan dijadikan sarana oleh iblis la'natullah untuk menjerumuskan manusia agar menjadi makhluk yang sombong.
Solusi yang paling tepat agar tidak sombong adalah dengan cara menjadi orang yang tawadhu (rendah hati). Berikut kiat agar kita menjadi muslim yang tawadhu.
Pertama, anggap setiap orang adalah orang penting. Jika di rumah kita ada pembantu, maka pembantu adalah orang penting yang dapat berbuat banyak di rumah kita. Ia pandai memasak, mencuci, mengurus anak, dan lain-lain. Jika tidak ada pembantu, mungkin saja pekerjaan rumah kita akan bermasalah. Demikian pula supir, satpam, pengumpul sampah, tukang sapu, pengurus taman, dan lain-lain adalah orang-orang yang harus kita hargai. Niscaya ini akan mengikis kesombongan kita.
Kedua, akui bahwa kita selaku manusia memiliki berbagai keterbatasan sehebat apa pun kita. Andai ada seorang professor yang bangga dengan ilmunya, tentu dia hanya tahu dan faham spesialisasi ilmunya saja. Misalnya seorang professor di bidang peternakan ayam, yang dia fahami hanya ayam. Dia tidak faham ikan, tidak tahu banyak tentang kambing, tentang sapi, tentang kerbau, atau binatang lainnya. Apalagi kalau ditanya masalah elektronika, mesin, dan lain-lain, dia akan menggeleng tidak tahu. Oleh karena itu, seorang yang kaya tidak layak sombong, seorang yang memiliki berpangkat tidak layak sombong, juga setatus sosial lainnya tidak layak disombongkan oleh manusia.
Ketiga, yakini hanya Allah lah yang boleh untuk sombong. Manusia tidak berhak untuk sombong. Dialah Al-Kabiir, yang Mahabesar, Maha Pemilik segalanya, Maha Mengusai Segalanya. Wallahu a'lam.
[Swadaya]
0 Komentar Anda:
Poskan Komentar