Rabu, 14 Mei 2008

Kesombongan dan Terapinya

Kesombongan dan Terapinya
Penulis : Vien AM
KotaSantri.com :

Awalnya Iblis adalah salah satu mahluk Allah di samping para malaikat yang banyak bersujud dan mengingat Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Namun ketika suatu saat Allah mengujinya dengan sebuah cobaan, bangkit rasa kesombongannya. Ia telah berbuat lancang (id-lal) terhadap Sang Pemberi Nikmat, yaitu dengan merasa dirinya lebih baik dan lebih terhormat dari yang lain. Perasaan ini kemudian melahirkan rasa bangga (ujub). Ia mengira bahwa dengan kelebihan itu, berarti Allah lebih memuliakan dan menyayanginya. Maka lahirlah kesombongan. Ini yang menyebabkan murka Allah hingga berakibat turunnya laknat kepada Iblis. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Allah berfirman, "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab, "Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." Allah berfirman, "Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." (QS. Al-A'raaf (7) : 12-13).

Perbuatan sombong adalah perbuatan yang hina dan keji. Orang sombong adalah orang yang suka melecehkan dan menolak kebenaran. Allah amat membenci mahluk yang demikian ini. Sifat sombong sangat berbahaya karena akan mejadi penyebab hilangnya rasa hormat dan rasa saling menghargai di antara sesama manusia. Situasi seperti ini selanjutnya dapat memunculkan kedzaliman, kemarahan, dan pelanggaran hak yang pada puncaknya akan menimbulkan keributan dan permusuhan.

Kesombongan dapat dibagi menjadi dua, yaitu kesombongan batin (Kibr) dan kesombongan zhahir (Takabbur). Kibr adalah sifat yang merasa bahwa dirinya lebih dari yang lain, hingga timbul keinginan dalam hati untuk memperlihatkan kelebihannya tersebut. Inilah yang memunculkan ketakabburan. Dan dengan ketakabburannya ini seseorang merasa berhak mendapatkan kedudukan dan penghormatan yang lebih. Orang-orang seperti ini menuntut untuk didahulukan, didudukkan di tempat yang lebih terhormat, tidak mau memulai memberikan salam, jika berdiskusi tidak mau ditolak pendapatnya, dan jika dinasehati tidak mau menerima.

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan ujub terjadi. Imam Al-Ghazali membaginya menjadi beberapa kelompok, di antaranya adalah :

1. Ujub dengan fisiknya, misalnya kecantikan, postur tubuh, suara yang indah, dan lain-lain. Pengobatan ujub jenis ini yaitu dengan tafakur (berpikir) bahwa apa yang ada pada dirinya tidaklah kekal. Bahwa pada saatnya nanti ia akan kembali menjadi tanah dan membusuk dimakan cacing di dalam kubur dan menjijikkan.

2. Ujub dengan kekuatan. Padahal kekuatan tidak selalu mendatangkan kemenangan. Kekuatan bahkan dapat melahirkan kecerobohan dan kelalaian. Terapinya yaitu dengan memikirkan bahwa meriang sehari saja dapat menghilangkan segala kekuatan.

3. Ujub dengan intelektualitas. Pengalaman membuktikan bahwa orang berilmu seringkali sulit menerima pendapat orang yang tidak sejalan dengan pikirannya. Bahkan tidak jarang orang berilmu malah jauh dari hidayah. Untuk mencegahnya, orang-orang seperti ini harus banyak bersyukur atas karunia yang diterimanya tersebut. Ia juga harus menyadari bahwa ilmunya tidak seberapa dibanding ilmu Allah. Sesungguhnya akal dan ilmunya itu hanya terbatas. Di samping itu, ia juga harus selalu mawas diri bahwa dengan sedikit gangguan saja di otak, dapat membuatnya kehilangan ingatan.

4. Ujub dengan nasab/turunan keluarga yang terhormat. Terapi orang-orang seperti ini adalah dengan menyadari bahwa apa yang didapat nenek-moyangnya itu dengan ilmu. Mereka mendapat kemuliaan karena ketaatan, ilmu, serta sifat yang terpuji bukan karena nasab. Dan sebagai tanggung jawabnya, ia harus meneladani sifat nenek buyutnya tersebut, bukan malah mencorengnya dengan kebodohan dan kesombongan.

5. Ujub dengan nasab para penguasa dan pejabat yang dzalim. Ini adalah puncak kebodohan. Pengobatannya adalah dengan cara merenungkan diri akan kerusakan dan kesengsaraan yang ditimbulkan para penguasa tersebut terhadap rakyat dan bawahannya. Memikirkan bahwa orang-orang seperti ini adalah merusak agama dan menimbulkan murka Allah SWT.

6. Ujub dengan harta. Terapi terhadap orang-orang yang bangga terhadap harta kekayaan adalah dengan merenungkan tentang keburukan harta kekayaan itu sendiri. Karena dengan semakin banyaknya harta, sesungguhnya selain makin banyak pula tanggung jawab yang harus ditunaikannya, juga semakin banyak pula orang yang dengki terhadapnya. Di samping itu, mereka juga sebaiknya banyak mengingat bahwa orang fakir pada hari Kiamat nanti akan masuk surga terlebih dahulu. Mereka tidak perlu dihisab kekayaannya karena memang tidak memilikinya. Sebaliknya, orang berharta harus terlebih dahulu mempertanggungjawabkan harta miliknya; darimana ia mendapatkannya, untuk apa saja hartanya tersebut digunakan. Selain itu, orang berharta harus menggotong kekayaannya ketika menuju mahkamah peradilan akhirat. Sehingga makin banyak hartanya, makin terseok-seok pula jalannya.

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS. An-Nisaa' (4) : 36).

Diambil dari Intisari Ihya' Ulumuddin karya Al-Ghazali, "Mensucikan Jiwa" yang disusun ulang oleh Sa'id Hawwa.


0 Komentar Anda: