Tanggung Jawab Telinga, Mata dan Hati
“ …..sesungguhnya pendengaran, penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu tetap akan itu akan ditanya tentang apa yang dilakukannya” (Q.S Al-Israa : 36)
Terkadang kita bertanya pada diri sendiri, apakah waktu hari ini berbeda dan lebih pendek dengan suatu masa dulu? Begitu cepat terasa perputaran waktu dari satu hari ke hari lainnya. Akibatnya tidak ada lagi waktu cukup waktu untuk mencari kehidupan disiang hari saja, hingga malam hari juga untuk bekerja.
Sudah pasti ini tentu menjadikan waktu istirahat berkurang. Adapun waktu untuk tafakkur, muhasabah (menghitung diri), muraqabah (mendekatkan diri pada Allah), hamper tiada.
Bagaimana sholat malam, sedangkan sholat isya’ dikerjakan menahan kantuk, sisa fikiran ini pula masih tertuju pada lain perkara seputar keduniaan juga.
Belum lagi ketika sholat TV tidak dimatikan, sedangkan anak istri sedang menonton. Apa bisa khusyu? Sedangkan untuk mengingat bacaannya saja sudah kesukaran.
Tahu sebelum masuk tidur,digalakkan meluangkan waktu sejenak untuk berzikir. Kalau masih dapat dilakukan dengan membaca Al Quran paling sedikit tiga surah terakhir yaitu Qul Huwallahu ahad, Qul a’udzubirabbil falaq dan qul a’udzubirabbinnas, lalu ditutup dengan doa tidur.
Hanya saja seringnya tertidur tanpa sengaja seakan terbunuh oleh kelelahan mencari penghidupan. Terkadang masih memaksa diri terus menonton TV, lupa berzikir, lupa sholat, lupa berdoa ataupun mengadakan muhasabah.
Bagaimana tengah malam bisa bangun, sedangkan tidurku menjelang dini hari terbuai acara TV, atau melepas lelah dan stress di poskamling, warungan malam atau kadang rumah tetangga…kan?
Rasanya tidak lagi mengerti untuk apa bekerja sekedar mencari harta. Tiada lagi waktu untuk berfikir, dari mana datangnya harta itu. Tidak ada lagi kesempatan untuk merenung, apakah yang lain juga mendapatkannya? Tidak juga berkesempatan untuk menilai, halal atu haram, sebaliknya terus digunakan apa saj tanpa berfikir panjang.
Dalam benak ini hanya satu yang difikiran, yang pasti saya dapat. Bukan tak tahu bahwasanya digalakkan untuk berfikir, darimana datangnya dan kemana dibelanjakan,
Hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja, berjuang, berkorban, berdamai dan berperang untuk hidup, bahkan mempertaruhkan hidup sekedar untuk hidup.
Telinga lubang dan bisa untuk mendengan. Tetapi tidak untuk mendengarkan nasehat, arahan, perintah dan larangan ‘Zat’ yang menciptakan telinga. Apabila musik dimainkan, nyanyian diperdengarkan, fitnah disebarkan, telinga ini menjadi normal kembali.
Mata juga terbuka, tetapi unutk membaca kalimah Allah menjadi rabun, malahan buta sama sekali. Berbeda tatkala melihat lenggak-lenggok artis, baik di pentas terbuka maupun di layar kaca TV, mata tiba-tiba nejadi jernih, sejernih kaca TV.
Masih mempunyai hati, tetapi sekedar gumpalan daging yang terbalut rongga dada. Hati yang berupa qolbu tidak lagi ada, paling tidak sudah lama tidak terpakai. Usang
Haruskah aku merenungkan…..telinga, mata dan hati yang Allah berikan sudah berfungsi sebagaimana yang diharapkan oleh Yang Menciptakan? Atau tetap dibuat alasan, belum ada waktu untuk bermuhasabah.
Bukan rakus dunia tetapi perusahaan perlu dipertahankan mati-matian jika ingin tetap berjalan… denga berbagai tunggakan kredit yang terus membengkak. Kemewahan yang ada sekedar paksaan trend, gaya atau ego.
Bukan rakus dunia tetapi semua waktu yang telah habis mencari kehidupan hasilnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan harian saja tak cukup. Meski terpaksa melewati batas garis merah karena kondisi telah memaksa.
Mungkin keberkahan yang telah hilang. Mungkin keridhoan Allah yang telah tiada. Mungkin lantaran perjalanan dari garis ketentuan-Nya telah menyimpang. Mungkin akan tetap kondisi sedemikian baru terhenti di liang lahad. Mungkin hanya aku sendiri yang begini. Mungkin and juga.
“…..sesungguhnya pendengaran dan peglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu tetap akan ditanya teentang apa yang dilakukannya.” (Q.S Al-Israa : 36)
Sumber : Buletin Mutiara Amaly
kotasantri.com
0 Komentar Anda:
Poskan Komentar