Anak Sebagai Amanah
”Anak anugerah terindah dalam hidup” Agaknya sepenggal kalimat diatas tidak berlaku bagi beberapa keluarga di Indonesia.
Maraknya pemberitaan media yang mengangkat kasus anak dibunuh oleh orangtua (ibu) kandung menyimpulkan bahwa hadirnya anak ditengah keluarga tidak selamanya menjadi kebahagian bagi orangtua.
Kesekian kalinya media memberitakan pembunuhan anak yang dilakukan oleh seorang ibu. Masih lekat dalam ingatan kita kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Anik Komariah (31 thn) di Bandung Jawa Barat. Anik membunuh ketiga buah hatinya yang masih belia, Nazhif (6 tahun), Faras (3 tahun) dan si bungsu Umar (9 bulan).
Disusul oleh Junania Mercy di Malang, Jawa Timur. Ia memberi racun potasium yang dicampurkan ke dalam susu anaknya. Kontan saja nyawa ke empat anaknya melayang.
Berita terakhir yang teranyar dari kasus pembunuhan yang dilakukan oleh ibu terhadap anak kandung terjadi di Bekasi, Jawa Barat. Ismayati, Ibu 2 (dua) anak yang tega membunuh anak-anaknya dengan menenggelamkan dalam bak mandi.
Gangguan kejiwaan yang dialami si ibu diduga menjadi faktor pemicu felicide. Felicide adalah pembunuhan anak oleh orang tua sendiri. dr. Teddy Hidayat, Sp.K.J Kepala Bagian Kedokteran Jiwa RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, menyatakan bahwa felicide sebagai penyebab kematian anak tertinggi di dunia.
Para pelaku felicide umumnya menderita skizofrenia tipe paranoid. Mereka mengaku mendengar bisikan berupa komando yang memerintahkan untuk membunuh anak kandungnya sendiri.
Keadaan ekonomi yang dijadikan alasan untuk membunuh buah hati, menjadi pencetus terjadinya gangguan jiwa skizofrenia tipe paranoid. Ketakutan berlebihan karena tidak dapat menghidupi si buah hati, dan hanya dengan mengakhiri nyawa si buah hati si ibu merasa dapat mengakhiri penderitaan si anak. Hal ini dapat kita telusuri dari cerita para ibu yang melakukan felicide seperti yang dilakukan oleh Anik Komariah, Junania Mercy dan yang lainnya.
Anak Sebagai Amanah
Anak adalah amanah Allah SWT kepada orangtua yang dianugerahi buah hati. Bukan sebagai amanah biasa yang hanya menghendaki pemeliharaan, penjagaan, akan tetapi harus dikembangkan, dan akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak di hadapan-Nya.
"Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan itu." (QS.At-Tahrim:6).
Faktor ekonomi dimana si ibu takut tidak bisa memenuhi kebutuhan si anak menjadi pemicu gangguan kejiwaan yang menimbulkan niat untuk membunuh buah hati, jelaslah tidak dibenarkan dalam syari`at.
Al-qur`an telah menegaskan bahwa setiap anak yang dilahirkan telah terjamin rezekinya dimuka bumi ini.
”Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan, Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu.” (QS. Al An-An`am : 151)
”Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu”. (QS. Al Isra` :31)
Bahkan binatang melata sekalipun tak luput telah dijamin rezekinya di muka bumi ini : "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah SWT-lah yang memberi rezkinya... "(QD.Huud : 6).
Karena itu jangan takut apabila anak akan mati kelaparan, ataupun kebutuhannya tidak bisa terpenuhi. Hanya saja yang perlu dicamkan bahwa rezeki itu tidak bisa datang hanya dengan berdiam diri saja, melainkan dengan berusaha (berikhtiar), tentunya ikhtiar yang halal. Allah SWT tidak akan membiarkan umatnya menderita apabila berikhtiar dengan kesungguhan.
"Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari jalan yang tiada terduga. Barang siapa yang bertawakal kepada Allah. niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu" (QS. Ath-Thalaq :2-3)
Anak adalah titipan Allah SWT. Kedua orangtuanya berkewajiban memelihara setiap titipan. Proses pemeliharaan secara optimal diharapkan dapat menjadikan seorang anak kelak akan menjadi generasi yang dapat membahagiakan kedua orangtua.”Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian”
Berapa banyak pasangan di muka bumi ini yang sangat menginginkan kehadiran buah hati ditengah keluarga mereka, namun Allah SWT belum memberikannya, bisa jadi itu sebagai ujian bagi mereka. Dan bagi mereka yang telah dikaruniai buah hati bisa jadi anak juga menajadi ujian bagi mereka, tetapi walaupun demikian harus senantiasa disyukuri dengan dirawat dan dipelihara sebaik mungkin..
”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. Al-Anfal : 28)
0 Komentar Anda:
Poskan Komentar