Jumat, 16 Februari 2007

Akal Sang Hakim

Sang Hakim


Setelah saya mencoba membahas secara berkesinambungan terhadap problematika umat Islam dan manusia dalam kumpulan artikel:

Pengkhianat Tuhan, Rekonstruksi Berfikir, Rekonstruksi Pemahaman As Sunnah, maka pada kali ini saya akan tutup serial ini dengan artikel pamungkas, yaitu serial Akal Sang Hakim.

Sudah sangat umum pengertian di tengah-tengah masyarakat bahwa tatkala kita berkata tentang AKAL, maka yang dimaksudkan dengan akal itu langsung saja tertuju kepada instrumen OTAK kita. Saat kita berkata: “Pikirin dong…, gunakan akal sehat dong…, akalmu kemana, waah akal saya buntu…?”, maka yang kita maksud umumnya adalah wilayah otak kita sambil telunjuk kita mengarah ke arah otak kita. Begitu juga saat kita berkata : “Kau gunakan logika berfikir dong…!!”, sama saja…, otak-otak juga yang dimaksud.

Mari kita bahas mengenai OTAK dan AKAL ini secara lebih detail.

Otak adalah kumpulan sel-sel lunak yang dapat menyimpan data-data yang masuk kedalamnya lewat ke enam indra kita. Ada data tentang pengamatan dan penelitian yang bisa masuk hanya melalui telinga, ada pula pencerapan yang hanya bisa masuk lewat mata, lewat lidah, lewat hidung, lewat kulit, dan ada juga yang lewat dada (berupa rasa). Otak yang tak lebih dari sebesar bola basket ini, ternyata mampu menyimpan file-file data tersebut dengan cara yang sangat mengagumkan. Data-data yang masuk itu bisa berupa logika matematika, biologi sosiologi, filsafat, AGAMA, dan segala macam pengetahuan lainnya, dan ada pula yang berupa gambaran, suasana atau hal tentang suatu keadaan baik secara secara terpotong-potong maupun secara utuh. Semakin banyak logika-logika dan pengetahuan yang masuk kedalam otak seseorang, maka orang tersebut dinamakan orang yang berperadaban tinggi. Begitu juga tatkala otak manusia diisi dengan data yang melimpah ruah, maka orang tersebut dikatakan sebagai orang yang cerdas. Karena dengan data yang banyak tersedia itu dia akan mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang lebih menyeluruh terhadap permasalahan yang dia hadapi.

Peradaban suku pedalaman BADUY di wilayah Banten dikatakan lebih rendah dari peradaban masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Karena file-file data tentang peradaban baru yang merupakan hasil dari kemajuan zaman tidak masuk ke dalam otak orang Baduy itu. Selama puluhan bahkan ratusan tahun, masyarakat Baduy berusaha menutup otak mereka dari menerima file-file baru. Mereka mengisolir diri di kedalaman hutan belantara. Sehingga mereka tumbuh sebagai sebuah komunitas masyarakat yang peradabannya tertinggal digilas roda sejarah. Alat komunikasi, transportasi, dan gaya hidup mereka begitu statis, sehingga mereka kemudian menjadi komunitas yang jadi tontonan orang hanya karena keprimitifannya.

Peradaban masyarakat Jakarta dikatakan juga lebih rendah dari peradaban masyarakat kota-kota besar lainnya di dunia, seperti masyarakat Tokyo, New York, dan Paris. Walaupun sekilas terlihat hampir tidak ada bedanya, akan tetapi selalu saja ada rasa minder dan rendah diri masyarakat Jakarta jika berhadapan dengan masyarakat berperadaban maju tersebut. Untuk menutupi rasa minder tersebut, maka masyarakat Jakarta biasanya bertindak melebih-lebihkan aksi (over acting), agar bisa pula dikatakan orang sebagai masyarakat yang berperadaban tinggi.

Kalau dibandingkan lebih lanjut, peradaban masyarakat modern sekarang dengan masyarakat Indonesia dia zaman kerajaan MAJAPAHIT dan SRIWIJAYA dulu, maka peradaban kedua kerajaan tersebut sudah sangat jauh ketinggalan zaman. Yang tertinggal sekarang hanyalah nostalgia indah yang dinikmati orang lewat acara-acara seremonial, dan juga melalui film-film ber-setting ke zaman kedua kerajaan kuno tersebut. Tidak lebih.

Kemudian kalau sejarah kita coba tarik mundur ke zaman Rasulullah dan para sahabat Beliau, maka peradaban saat itu akan jauh lebih tertinggal lagi dari peradaban saat ini. Akan tetapi untuk mengatakan bahwa peradaban zaman Nabi sangat jauh tertinggal seperti ini, mayoritas masyarakat tidak siap, karena kebanyakan kita sepertinya selalu saja melakukan “mind setting” sesuai dengan keadaan masyarakat kita sekarang ini. Di dalam otak Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau saat itu tidak ada file tentang peradaban modern seperti sekarang ini, tidak ada file tentang kedokteran modern, transportasi, komunikasi, pemerintahan demokrasi, dan berbagai produk peradaban modern lainnya. Sehingga kalau hanya didasarkan pada data-data yang tersimpan di otak beliau-beliau yang mulia itu, maka boleh dikatakan peradaban saat itu tidak akan jauh berbeda dengan peradaban masyarakat Baduy di Banten saat ini. Akan tetapi kenapa dikatakan bahwa Rasulullah dan para sahabat Beliau adalah generasi yang mempunyai AKAL yang sangat tinggi dan sangat cerdas serta menembus zaman demi zaman…???.

Dengan memperhatikan tentang isi otak yang membentuk peradaban ini, maka sekarang mari kita ajukan pertanyaan:

· Kalau begitu AKAL itu yang mana, apa, dan siapa….?,
· Tidakkah kita selama ini terlalu sering berucap bahwa AKAL adalah milik manusia yang TERTINGGI yang membedakan manusia dengan binatang dan makhluk-makhluk lainnya…?. Akal lah yang menyebabkan malaikat sampai-sampai harus sujud menghormat kepada manusia.
· Kalau dikatakan akal itu adalah yang tertinggi, kenapa ada masyarakat yang dikatakan yang mempunyai akal dan peradaban yang rendah seperti suku Baduy diatas…?.
· Kalau begitu apakah barangkali ada akal yang tinggi dan ada pula akal yang rendah…???”.

Belum lagi kalau isi otak itu kalau mau ditinjau pula file-file tentang baik dan buruk, maka kita akan dihadapkan kepada perbedaan yang sangat signifikan antar orang ke orang. Mari kita lihat salah satu saja, misalnya masalah rokok. Bagi AKAL sekelompok orang, sebut saja “T”, rokok itu dikatakan haram jadah, buruk sekali. Sehingga bagi kelompok tersebut melihat orang merokok tak ubahnya seperti melihat orang yang sudah melakukan dosa yang sangat besar, sehingga tidak jarang mereka menjauhkan diri dari orang yang merokok. Sedangkan bagi sekelompok lainnya, misalnya “N”, rokok bukanlah hal yang haram, ya…, paling-paling jatuhnya ke makruh. Sehingga sedotan rokok mereka tak ubahnya seperti sepur tua yang sedang ngos-ngosan, ngepul terus. Kalau begitu akal orang yang mana yang benar?.

Yang lebih tragis lagi adalah kalau sudah masuk kepada logika. Misalnya, menurut logika Syi’ah, Sunni itu sangatlah rendah, karena pencetus awal Sunni, yaitu Aisyah dan Muawwiyah, telah dengan tega-teganya mempelopori pembunuhan cucu Rasulullah dan Ali Ra. Sunni ini menurut beberapa literatur yang saya ketahui, menurut AKAL SEHAT Syi’ah dianggap kafir. Begitu pun sebaliknya. Saling menyalahkanlah, kalau tidak mau dikatakan saling mengkafirkan. Kok bisa yah akal saling bertentangan…???. Ini baru masuk pada dua mainstream yang saling mengaku dirinya adalah Islam yang benar. Belum lagi kalau dimasukkan sub mainstream lainnya, wuih lebih ruwet lagi.

Yang lebih ultra tragis lagi adalah kalau sudah masuk pada hubungan multi agama dan kepercayaan. Logika akal dari agama-agama yang ada telah menjadikan bumi ini bersimbah darah dari zaman ke zaman, seperti tak henti-hentinya. Lalu Akal itu dimana….???.

AKAL...

Sering dikatakan bahwa Akal itu adalah anasir yang tertinggi dan selalu benar karena dia berasal dari Tuhan, yang dititipkan oleh Tuhan kepada manusia. Dan dikatakan lagi bahwa akal itu akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia itu juga diagungkan lebih dari makhluk lainnya adalah karena akalmya. Benarkah…???. Lalu apakah Akal itu sama dengan logika…??. Mari kita kupas….

Aha…, logika berfikir….!!!. Logika berfikir ternyata sangat tergantung pada kesepakatan (IJMAK ZAMANI) dari orang-orang yang terkait atau sengaja mengaitkan dirinya terhadap SESUATU. Logika berfikir ini sangat tergantung kepada HIMPUNAN input-input dari masyarakat itu sendiri dan lingkungannya pada zaman tertentu. Misalnya, kita ambil mulai dari zaman-zaman awal semasa Nabi Adam. Menurut logika berfikir pada zaman Nabi Adam tersebut, incest (kawin dengan saudara kandung) adalah HALAL. Bandingkan dengan logika berfikir manusia zaman sekarang, yang tidak bisa sedikitpun menerima logika berfikir perkawinan incest ini.

Menurut logika berfikir generasi sebelum abad 20, poligami adalah suatu yang niscaya saja. Sehingga seorang laki-laki dengan banyak istri merupakan simbol kejantanan dan kewibawaan. Akan tetapi menurut logika berfikir tahun-tahun belakangan ini, poligami sudah menjadi barang aneh dan jadi tontonan orang, karena dianggap melecehkan wanita. Karena wanita-wanita zaman sekarang sudah mempunyai logika berfikir yang jauh berbeda dengan generasi ibu dan nenek mereka, sehingga hampir tidak ada wanita lagi pada zaman sekarang yang mau suaminya berpoligami.

Menurut logika berfikir orang di pedalaman Papua, yang membuat rasa malu mereka hanyalah tatkala kelaminnya kelihatan, maka menurut AKAL SEHAT mereka, untuk menutup malunya laki-laki di Papua sana cukup hanya dengan menutup kelaminnya dengan koteka dan bagi perempuannya cukup menutup wilayah sekitar paha mereka dengan daun-daunan. Cukup itu…!. Akan tetapi menurut logika berfikir mayoritas orang Jakarta, rasa malu itu tidak cukup hanya ditutupi dengan memakai koteka. Akan tetapi rasa malu itu harus ditutupi dengan menutup hampir seluruh tubuh dengan pakaian. Makanya tatkala ada orang yang membuka-buka bagian tubuhnya, misalnya para artis, di Jakarta akan menjadi tontonan aneh bagi masyarakat sekitarnya.

Begitu juga dalam hal persenjataan, menurut logika berfikir orang di Papua sana, dalam berperang mereka cukup hanya dengan memakai panah beracun dan senjata tajam lainnya untuk menghadapi lawannya. Kalau yang mati di kedua belah pihak sudah sama banyak, maka perang dianggap selesai. Akan tetapi menurut logika berfikir orang Amerika sana, untuk berperang mereka benar-benar menyiapkan senjata perang yang memiriskan nyali lawan-lawannya. Dan manusia yang terbunuh dalam perang modern sekarang ini pun tak tanggung-tanggung, ratusan ribu orang bisa meninggal sia-sia dengan tubuh tercabik-cabik dan hancur luluh. Karena pada orang pedalaman Papua otaknya tidak punya ruangan bagi logika berfikir perang modern seperti ruangan otak orang Amerika sana. Ya…, otaknya kosong, nggak ada ruangan apa-apa untuk logika perang modern.

Pada tataran yang lebih real, logika berfikir seorang operator di sebuah fasilitas produksi akan sangat jauh berbeda dengan logika berfikir seorang Direktur. Karena otak seorang operator tidak memuat ruangan yang dibutuhkan untuk data-data dan file yang dibutuhkan oleh seorang Direktur. Ruang otak Direktur mempunyai sapuan jangkauan horizon yang lebih luas dibandingkan horizon seorang operator.

Sekarang mari kita masuk kepada logika beragama…

Mari kita lihat tentang masalah haram dan halal yang akan menentukan diterima atau tidaknya sebuah praktek keagamaan. Pada penentuan Lebaran saja, logika berfikir orang bisa berbeda-beda. Hampir semua aliran yang ada dalam Islam setuju bahwa berpuasa pada tanggal 1 Syawal (hari Lebaran pertama) adalah haram hukumnya. Akan tetapi logika berfikir yang dipakai oleh kelompok NU seringkali berbeda dengan kelompok Muhammadiyah. Adalah hal yang sangat biasa antara NU dan Muhammadiyah terjadi perbedaan SATU HARI dalam menentukan hari Lebaran. Saat Muhammadiyah merayakan Lebaran, adakalanya NU masih berpuasa. Atau sebaliknya. Padahal dalam perbedaan ini ada masalah HALAL dan HARAM. Lalu dimana makna bahwa AKAL yang sering dikatakan YANG TAHU tentang mana yang halal dan mana yang haram…???. Lalu kalau ada perbedaan seperti itu, AKAL yang mana yang benar...?.

Logika berfikir kelompok Syi’ah pun sangat jauh berbeda dengan logika berfikir kelompok Sunni. Padahal masing-masing mereka saling mengaku bahwa mereka menyembah Tuhan Yang sama yaitu Allah, dan bernabikan manusia yang sama yaitu Muhammad Rasulullah SAW. Kedua kelompok itu pun sama-sama mengaku bahwa mereka mengikuti teladan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, dan mengikuti apa-apa yang diperintahkan Tuhan di dalam Al Qur’an. Tapi anehnya adalah bahwa masing-masing berdo’a kepada Tuhan yang sama untuk kelaknatan kelompok “lawannya”. Ehhh…, bukankah ini hanya semata-mata luapan ego mereka masing-masing saja…???. Dan dengan ego masing-masing itulah mereka MENCIPTAKAN TUHAN dan KARAKTER RASULULLAH sesuai dengan KESEPAKATAN masing-masing kelompok atau aliran itu berdasarkan data-data dan file-file yang tersimpan di otak mereka.

Yaa…, alangkah leluasanya manusia-manusia selama ini MENCIPTAKAN TUHAN, sehingga manusia-manusia saling berebut untuk membela Tuhan atau paling tidak mengaku saling membela agama Tuhan. Padahal Tuhan lah yang MENCIPTAKAN KITA. Padahal Tuhan ataupun agama Tuhan itu tidak perlu dibela-belain. Begitu juga dengan slogan bahwa kelompok demi kelompok manusia saling mengaku-ngaku mengikuti karakter Nabi Muhammad SAW mulai dari ciri-ciri fisik Beliau sampai dengan ibadah-ibadah Beliau yang sering diistilahkan sebagai SUNNAH Beliau. Padahal secara logika berfikir sederhana saja, ciri-ciri ketubuhan Nabi, misalnya jenggot, rambut, sorban, dan pakaian Beliau tidak akan jauh berbeda dengan ciri-ciri ketubuhan Abu Lahab dan Abu Jahal. Yaa…, karena ruang otak kita tidak pernah diisi dengan file-file informasi tentang ciri ketubuhan Abu Lahab dan Abu Jahal itu, makanya kita tidak bisa “ngeh” (paham). Yakin benar kita bahwa apa-apa yang kita lakukan telah mengikuti apa-apa yang dicontohkan Nabi…!!, dari mana validasinya…???.

Jangankan tentang masalah logika aliran-aliran agama yang ruwet di atas, mengenai apa yang dinamakan orang dengan ILMU ALAM pun sebenarnya yang ada adalah logika kesepakatan antar umat manusia saja. Misalnya, ukuran untuk 1 meter di sepakati orang sama dengan panjang sebuah benda atau gelombang tertentu yang dijadikan sebagai acuannya. Kalau tidak sepakat, maka dibuat orang pula ukuran lain untuk ukuran panjang, misalnya inch dan segala turunannya.

Kalau begitu samakah AKAL dengan LOGIKA…???.

Ternyata tidak juga…???. Atau tepatnya TIDAK SAMA. Logika ternyata hanyalah sebuah RELATIVITAS BERFIKIR antar manusia atau sekelompok orang yang saling sepakat terhadap SESUATU yang mereka hadapi. Logika ini sangat tergantung kepada ruangan otak kita. Seberapa banyak informasi, data, dan suasana yang tersimpan di dalamnya. Logika berfikir inilah yang membedakan setiap manusia atau kelompok manusia dengan yang lainnya. Logika berfikir ini jugalah yang akan membentuk peradaban-peradaban manusia yang berbeda dari zaman ke zaman. Logika berfikir Syi’ah akan melahirkan peradaban ala Syi’ah. Kalau ada orang Syi’ah yang keluar dari logika berfikir kesyi’ahan ini, maka mereka disebut bukan Syi’ah lagi. Begitu juga kelompok Sunni, Salafi, dan sebagainya, kalau mereka keluar dari logika berfikir Sunni atau kelompok lainnya, maka mereka disebut pula sebagai bukan termasuk ke dalam kelompok asal mereka lagi.

Logika berfikir aliran-aliran diatas juga sangat bervariasi untuk daerah dan suku bangsa yang berbeda. Karakter Syi’ah di Iran akan berbeda dengan Syi’ah yang ada di Indonesia, walaupun semangatnya tetap sama. Begitu juga logika berfikir Sunni di Arab Saudi yang lebih dikenal sebagai Wahabi, sangat jauh berbeda dengan Sunni ala Indonesia, misalnya Sunni ala NU, Muhammadiyah dsb.

Begitu juga dengan logika berfikir agama-agama yang lainnya. Misalnya, kalau menurut logika berfikir Kristen, maka akibat ketidakmampuan mereka memahami hakikat Tuhan, mereka lalu menciptakan karakter baru berupa Anak Tuhan, yaitu Kristus, lengkap dengan atribut kemanusiaan Beliau. Tujuannya untuk memudahkan mereka dalam mengarahkan objek fikir mereka dalam beribadah. Dengan atribut seperti ini, lalu Yesus itu sendiri disembah dan dimintakan pertolongan sebagaimana layaknya Tuhan sendiri. Kalau ada orang Kristen yang keluar dari logika berfikir tentang ketuhanan Yesus ini, maka mereka dikatakan bukan lagi sebagai seorang yang berlogika kristiani.

Akal Sang Hakim…

Lalu sang AKAL itu seperti apa…?.

AKAL adalah Sang Utusan. Akal ini diturunkan dengan tidak membawa DATA apa-apa. Dia tidak membawa ilmu, dia tidak bawa pengetahuan apa-apa. Malah dia tidak membawa peradaban apa-apa dan juga dia tidak punya apa-apa. Dia adalah Sang Hakim. Dialah yang akan menimbang dan memutuskan segala sesuatunya berdasarkan data-data peradaban yang ada di dalam otak kita.

Aha…, kalau begitu Sang Utusan itu berada Dimana dan Siapa DIA sebenarnya …???. Mari kita cari hidayah (petunjuk) yang dihamparkan Tuhan di dalam Al Qur’an. Allah memberitahu kita bahwa:

Balil insanu ‘ala nafsihi bashirah
Pada manusia itu, di atas Nafsnya (diri-nya) ada bashirah, amal, yang tahu, yang mengamatinya, yang menghakiminya. (al Qiyaamah 14)

Ayat di atas memberi tahu kita bahwa KEBERADAAN AKAL Sang Hakim, adalah DIATAS NAFS manusia (‘ala nafsihi). Jadi akal itu berada di atas TUBUH, di atas LOGIKA FIKIRAN, dan juga di atas LOGIKA RASA manusia. Karena Sang AKAL itu TAHU dan menjadi SAKSI atas apa-apa yang terjadi maupun yang dilakukan oleh tubuh saya, atas apa-apa yang tersimpan di dalam otak saya, dan atas apa-apa yang ada terasa di dalam dada saya. Oleh karena sensasi KETUBUHAN, FIKIRAN, dan RASA ini dikoordinasikan bahkan di FILE di dalam OTAK manusia, maka kalau diringkas dan dipadatkan dapat dikatakan bahwa AKAL itu berada di atas OTAK manusia. AKAL bukanlah otak itu sendiri. AKAL jauh melampau otak kita. AKAL itu MELIPUTI OTAK KITA. Akal itu MENINGGI melampaui segala alam-alam dan peradaban yang ada. Jelasnya, AKAL adalah YANG TAHU tentang apa peradaban yang ada di dalam otak kita ini.

Siapa Dia…???.

Untuk mengenal lebih jauh tentang siapa sebenarnya Sang Hakim ini, maka mari kita searching lagi ke dalam kumpulan hidayah Tuhan, yaitu Al Qur’an:

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya RUH-KU; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya", (Shaad 71-72)”.

“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya RUH-KU, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (Al Hijr 28-29).

“… Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan RUH-NYA …” (Al Mujadilah 22).

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang RUH. Katakanlah: "RUH itu patuh kepada perintah (amr) Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Al Israa’ 85).

Jelaslah sekarang bahwa AKAL adalah Sang Bashirah, Sang Tahu, Sang Bijaksana. Tuhan menyebut AKAL yang tahu tentang segala sepak terjang NAFS manusia ini dengan sebutan yang sangat mesra, itu RUH-KU (MIN-RUHI)….!!!. Karena AKAL itu adalah RUH-TUHAN, maka akal itu selalu selaras dengan Fitrah Tuhan dan selalu pula patuh kepada perintah (amr) Tuhan.

Lalu Sang Akal berikrar: “Aku adalah dari-Nya…., Aku adalah milik-Tuhan…, Aku adalah semurni-murni RUH yang berasal dari Tuhan. Aku adalah RUH-Nya…, maka dengan kehendak Tuhan pula Aku mempunyai fitrah (tarikan kecenderungan) untuk selalu ingin kembali kepada Tuhan Ku…, “innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”…!!!.

Ternyata keberadaan Akal, Sang Aku, inilah yang pada awalnya GAGAL disadari oleh Malaikat sehingga Malaikat sempat mempertanyakan penciptaan manusia (Adam). Malaikat dengan galau bertanya-tanya kepada Allah:

"… Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?".

Malaikat mengira bahwa cukuplah bagi setiap makhluk Allah itu untuk selalu bertasbih, memuji, dan mensucikan Tuhan. Cukuplah mereka saja yang ada. Lalu dengan lembut tapi tegas PENGAJARAN Allah menyusupkan ke dalam pengertian Malaikat:

"…Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui…".

Terlebih lagi kepada Adam itu: “…Kutiupkan RUH-KU…”, Dengan Ruh-Ku itulah Adam Ku bacakan (IQRA) nama-nama, Ku ajari melihat, Ku ajari mendengar, Ku ajari rahasia langit dan bumi, Ku ajari untuk mengetahui apa-apa yang kamu lahirkan dan apa-apa yang kamu sembunyikan…”.

"Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini."

Dan Malaikat pun terdiam, menyimak Adam dengan lancar menyebutkan apa-apa yang telah diajarkan Tuhan kepadanya. Dengan merunduk-runduk Malaikat pun tidak bisa berkata-kata lagi selain hanya tunduk sambil memuja Allah. Subhanaka…!!! Lalu dengan tegas Allah berfirman: “SUJUD..., sujudlah kamu kepada Adam…, karena pada tanah yang Ku bentuk indah itu ada RUH-KU. Akhirnya Malaikat tersungkur sujud menyembah Sang Aku, Ruh-Ku, yang ditandai dengan ADANYA diri Adam, dengan cerdas dan berakalnya Adam, dengan hidup dan bergeraknya Adam.

Sujud…, sujud…, sujudlah kalian semua wahai hamba-hamba Ku. Karena disini ada Aku.

“Innani ana Allah laa ilaha illa ana fa’budni wa aqii mishshalata lidzikri. Sesungguhnya Aku ini Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku…!!. (Thaahaa : 14)

Lalu para Malaikat melepaskan keakuannya, sehingga yang ada hanyalah Aku Yang Hakiki…, semua fana, tiada apa-apa pun yang kekal kecuali hanyalah WAJAH AKU.

Akan tetapi…, ternyata ada yang TIDAK SUJUD. Ada yang tidak patuh mengikuti perintah untuk bersujud kepada Adam yang padanya ada tiupan RUH-KU. Karakter yang tidak patuh atas perintah ini lalu disebut Allah dengan panggilan IBLIS. Lalu Allah menyusupkan pertanyaan pedas ke relung pengertian IBLIS: “Wahai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis pun menjawab: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah".

TERNYATA karakter yang tidak patuh itu, IBLIS, hanya terpaku pada citra bahan dasar penciptaan antara ketubuhan dia dan ketubuhan Adam. Iblis hanya mampu menyadari bahwa dirinya di citra dari api, dan Adam di citra dari tanah. Hanya itu, tak lebih dan tak kurang. Iblis benar-benar tidak mampu menyadari dan “melihat” bahwa pada diri Adam itu ternyata ada MIN-RUHI, ada Aku…!!!. Bahkan pada diri IBLIS itu sendiri sebenarnya ada Aku, karena Aku meliputi segala sesuatu. Tiada sesuatu apapun yang luput dari LIPUTAN Aku. Iblis ternyata TIDAK bisa melepaskan keakuan dirinya menjadi Aku Yang Hakiki. Iblis telah menyempitkan peran Aku hanya sebatas citra ketubuhan (diri) nya sendiri.

Akibatnya sungguh-sungguh fatal:

“Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah makhluk-Ku yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan…".

Dan oleh karena Iblis sudah bertekad bulat untuk tidak melepaskan keakuan dirinya menuju Aku Yang Hakiki, maka selama tekad itu pula Iblis akan merasakan siksa yang sangat pedih.

Sampai disini jelaslah, bahwa AKAL bukanlah logika berfikir otak yang merupakan fungsi dari data-data yang pernah disimpan di dalam otak itu. Akan tetapi AKAL adalah salah satu BUAH dari keberadaan MIN-RUHI yang akan bertindak sebagai HAKIM atas DIRI (nafs) manusia, disamping untuk memberi hidup, memberi gerak, dan memberi fungsi-fungsi lainnya. Akal itu tidak terpengaruh dengan tinggi rendahnya peradaban manusia. Akal juga tidak tergantung dari agama, kepercayaan, mahzab, aliran, sekte apa yang dianut oleh manusia itu. Akal hanya bergantung, patuh, dan tunduk kepada Tuhan sebagai pemiliknya.


Sang Hakim In Action ...

Setelah kita bedah apa dan siapa itu AKAL, dan dimana posisinya terhadap otak manusia, maka sekarang mari kita ikuti bagaimana Sang Akal bertindak sebagai Hakim terhadap diri manusia.

Suatu saat otak manusia dimasuki informasi, bisa melalui mata, bisa pula melalui telinga, misalnya seperti contoh kita di atas, yaitu masalah hari Lebaran. Ada dua informasi yang masuk ke otak kita, bahwa lebaran tahun ini jatuh pada dua tanggal yang berbeda. Kelompok “M” dan mayoritas umat Islam Indonesia sepakat bahwa Lebaran jatuh pada tanggal 28 Januari, misalnya. Sedangkan kelompok “N” berdasarkan hitungan hisab menetapkan bahwa Lebaran terjadi pada tanggal 27 Januari. Artinya bagi warga “N” puasa tanggal 27 Januari itu HARAM hukumnya. Akal Sang Hakim TAHU bahwa ada dua informasi yang berbeda yang masuk ke dalam otak. Kemudian terjadilah pengadilan antara Akal sebagai Hakim dengan Otak sebagai terdakwa:

Sang Hakim bertanya, “Hei otak, kau punya file apa tentang kelompok-kelompok panutan yang kamu ikuti”.
Otak menjawab, “Dalam file saya yang ada hanya file tentang “M” ya Tuan Hakim. Karena orang tua saya membesarkan saya dilingkungan “M”, pendidikan saya di “M” , hukum fiqih yang saya ketahui adalah fikih dari ulama-ulama “M”.
“Ada informasi lain..?”, tanya Sang Akal.
“Tidak ada ya Tuan Hakim..”, jawab sang otak.
“Benar nih…, tidak ada data tentang fikih “N”…?, tanya Sang Hakim mempertegas.
“Ada sih…, tapi saya sudah kadung menerima pendapat fikih ulama “M” Tuan Hakim..”, tegas sang otak.
“Tidak ada keraguan lagi…?”, tanya Sang Hakim.
“Benar Tuan Hakim…, Suer deh”, jawab sang otak tegas.
“Kalau begitu…, kau lanjutkan puasamu dan lebaranlah tanggal 28 Januari ...!!!, putus Sang Hakim.
“Siap Tuan Hakim…!!, jawab sang otak.

Maka jadilah seseorang itu merayakan Lebaran pada tanggal 28 Januari.

Akan tetapi tatkala sang otak yang mempunyai kecenderungan (hawa) coba-coba menabrak putusan Sang Hakim yang telah tetapkan berdasarkan hukum kesepakatan yang ada di dalam otak kita. Misalnya, di dalam otak kita informasi yang ada cocok hanya untuk kita mengambil lebaran tanggal 28 Januari, akan tetapi kita coba-coba untuk berlebaran pada tanggal 27 Januari, maka Sang Hakim langsung turun tangan:

“Eeee…, katanya kamu kelompok “M”, di otakmu kan adanya file tentang “M”, masak kamu mau ikutan kelompok “N”, sang Hakim mulai menggangu.
“Tapi saya bingung Tuan Hakim…, masak lebaranya ada 2 hari yang berbeda …??. Saya akan ambil yang lebih duluan saja. Kan lebih enak”, sang otak mulai mengungkapkan keragu-raguannya.
“Jangan begitu wahai otak ..!!!. Itu salah…!!!. Kalau begitu puasamu tidak genap 30 hari”, kata Sang Hakim.
“Nggak apa-apa sekali ini Tuan Hakim…, sekali ini saja…!!!”, Sang otak mulai merayu.
“Eeee…, kan file mu mengatakan bahwa itu dosa…!!”, Sang Hakim mengingatkan lagi, memaksa lagi, menyiksa lagi, lagi dan lagi…!!!
“Oke deh Tuan Hakim. Saya akan berhari raya tanggal 28 Januari”, akhirnya sang otak menyerah untuk mengikuti putusan Akal Sang Hakim.
“Yaap…, laksanakan, dan saya tidak akan mengganggu kamu lagi ...!!!”, Sang Akal meyakinkan.

Lalu Sang Akal kembali ke posisi PENGAMAT. AKAL kembali ke posisi Yang Tahu, Yang Mengadili, Yang Manghakimi atas apa-apa data dan informasi baru maupun kesepakatan-kesepakatan baru yang masuk ke dalam otak melalui instrumen mata, telinga dan rasa. Begitulah Akal itu dari dulu, sekarang, dan yang akan datang. Fitrahnya tidak berubah sedikitpun.

Apapun yang dilaksanakan di bawah koordinasi Sang Otak, semata-mata hanyalah untuk mematuhi kesepakatan apa yang ada di dalamnya. Semua menjadi tanggung jawab sang otak dengan segala perangkat ikutannya, yang dalam istilah agamanya disebut sebagai NAFS (DIRI, JIWA). Sedangkan Sang Akal hanyalah berfungsi sebagai Yang Menghakimi, Yang Mengingatkan, Yang Memutuskan apa-apa yang harus dilakukan oleh sang otak sesuai dengan kesepakatan apa yang tersimpan di dalamnya. Akal tidak ikut-ikutan. Akal tidak senang maupun tidak susah atas apa-apa yang dijalankan oleh otak. Akal itu NETRAL. Karena dia berasal dari Yang Maha Netral, yaitu Allah. Setiap saat Sang Akal mendapatkan pengajaran dari ALLAH, dan FITRAHNYA pasti dan sesuai dengan FITRAH ALLAH.

AKAL Sang Hakim akan mengganggu dan mengganggu tak henti-hentinya atas ketidak konsistenan otak dalam menjalankan dirinya sendiri, menjalankan file-file kesepakatan yang ada didalam dirinya sendiri. Sang Hakim mengingatkan terus kepada Nafs agar Sang Nafs itu bertindak, berperilaku, berpendapat, dan melaksanakan file-file data yang ada di dalam otaknya. Sang Nafs selalu diingatkan dan diganggu dengan rasa bersalah, rasa ragu-ragu, dan yang paling menyiksa adalah munculnya rasa berdosa, Yaa…, Akal Sang Hakim akan menghukum kita dengan berbagai rasa yang MENYIKSA atas berani-beraninya kita menjalankan suatu yang BUKAN merupakan file-file kesepakatan di dalam otak kita. Dalam bahasa agamanya RASA tersiksa ini disebut sebagai NERAKA. Ya neraka itu ternyata realitasnya bisa kita rasakan saat ini juga. Tersiksanya kita sekarang ini (barangkali) merupakan tanda-tanda awal (indikasi) bahwa di akhirat pun kita akan tersiksa dengan lebih dahsyat lagi. He he he…, ini bukan nakut-nakutin lho….!!.

Sebaliknya, Begitu Sang Nafs menjalankan file-file yang ada di dalam dirinya (otak), maka Akal Sang Hakim pun memberikan apresiasi kepada Sang Nafs dengan munculnya rasa puas dan lega, sehingga suatu tindakan itu bisa dijalankan dengan tanpa beban. Dalam bahasa agamanya, suasana nyaman ini disebut sebagai kita mendapatkan PAHALA. Begitu juga saat mendapatkan rasa nyaman dan bahagia yang amat sangat, maka insya Allah itu diistilahkan sebagai kita mendapatkan realitas SYURGA. Jadi syurga itu realitasnya ada saat ini juga. Berbahagialah manusia-manusia yang bisa mendapatkan realitas syurga ini saat ini juga, karena itu adalah sebuah pertanda awal bahwa insya Allah di alam akhirat nanti dia juga akan merasakan realitas syurga yang sampai saat ini belum ada yang tahu seperti apa bayangannya.

Mari kita lihat bagaimana Akal Sang Hakim ini bertindak pada permasalahan lain. Misalnya, nggak usah jauh-jauh, adalah masalah perseteruan antara Syi’ah dan Sunni yang sudah sangat karatan, sehingga sangat sulit membersihkannya kalau orang sudah kecemplung ke dalamnya. Termasuk beberapa logika berfikir lainnya. Begini...!.

Ada sebuah informasi yang mengalir, misalnya tentang
'halalnya' kawin INCEST (kawin dengan saudara kandung) di zaman Nabi Adam.

Ya…, hanya segini saja informasi itu yang mengalir lewat tulisan ini. Tapi akibatnya…

Dueer..., informasi tersebut masuk ke dalam otak orang-orang yang sempat dialiri oleh informasi tersebut dari mana pun sumbernya dan dimana pun orang itu berada. Informasi itu bisa saja didapatkan saat membaca artikel ini, atau bisa pula dari hasil membaca di buku lainnya. Sehingga orang-orang tersebut menjadi tahu. Ada yang tahu atas informasi itu. Yang tahu itu sama dimana-mana. Apakah orang tersebut berada di gedung atau wilayah yang sama maupun yang berbeda. Ada yang tahu. Apapun aliran atau mahzabnya, yang tahu itu juga sama. Yang tahu memang hanya ada SATU, yang dalam bahasa populernya disebut dengan AKAL yang akan MENGHAKIMI informasi yang masuk itu. Karena Akal itu memang adalah Sang Hakim.

Akal lalu melihat ke dalam otak seseorang, misalnya ke otak Pak “Andi” yang terkenal dengan pemikiran-pemikiran kesyi’ahannya, dan Sang Akal mulai menyidik:

"Hei Andi..., otakmu isinya apa...??", selidik Sang Hakim.
"Logika Syi'ah Tuan Hakim...", sahut otak Andi dengan mantap.
”Kau percaya pada zaman Adam ada incest..??", tanya Akal dengan tegas.
"Nggak lah Tuan Hakim..., file saya memuat bahwa bagi kalangan mazhab Ahlulbait, kisah para Nabi dan Rasul memiliki kedudukan yang berbeda dengan kisah orang-orang biasa. Sejarah hidup para Nabi merupakan mata rantai yang tak terpisahkan dari sebuah konsep ketuhanan yang utuh. Pemahaman yang benar terhadap konsep ketuhanan (baca : akidah) akan melahirkan pemahaman yang benar terhadap sejarah hidup para nabi, dan bukan sebaliknya. Karenanya kisah-kisah melenceng tentang para Nabi (seperti Nabi bermuka masam, Nabi terkena sihir, incest anak-anak Adam dan lain-lain) yang diyakini oleh kalangan mainstream, bukan semata-mata kesalahan penulisan sejarah para nabi dan rasul an sich, tetapi disebabkan oleh kesalahan konsep ketuhanan yang mereka anut", urai otak Andi bersemangat sekali.
"Bagus..., banyak juga isi file-mu, kau tahu yang benarnya bagaimana....??", Sang Hakim menyelidiki keyakinan otaknya Andi.
"Hanya Allah yang paling tahu atas segala sesuatu... Tuan Hakim", jawab Otak Andi,
“Ya... itu pasti, hanya Allah yang paling tahu segala sesuatu, tapi menurut file-mu bagaimana proses kelanjutan keturunan anak-anak Adam..?. Katamu kau nggak setuju dengan pendapat halalnya incest di zaman Nabi Adam..??0," Sang Hakim dengan telaten mengadili otak Andi.
"Siap... Tuan Hakim, menurut saya begini..., dalam kitab yang pernah saya baca atau buku anu, atau wasiat Imam saya yang mulia, kisah-kisah seperti ini kayaknya adalah kisah-kisah israiliat... Tuan Hakim", urai otak Andi.
"Kau tahu atas apa yang kau sebutkan itu kejadiannya memang seperti begitu... itu?", tanya Sang Hakim meyakinkan.
"Hanya Allah yang paling tahu atas segala sesuatu... Tuan Hakim", jawab otak Andi lagi.
"Ku tanya kau tahu nggak kejadian itu, kau yakin kebenaran itu sama dengan yang kau tulis... itu?", tanya sang Hakim dengan tegas.
"Hanya Allah saja yang paling tahu atas segala sesuatu... Tuan Hakim. Sueerr... Tuan Hakim. Nggak ada lagi data yang lain dalam file saya. Kalaupun ada..., ya data itu nggak saya pakai, wong itu nggak sreg dengan rangkaian logika berfikir di dalam file saya...", jawab otak Andi lagi.
"Jadi kau tetap pada jalur berfikir seperti yang kau tulis...???, Sang Hakim hampir sampai pada vonis terakhirnya.
"Tetap Tuan Hakim...!. Kalau nggak percaya belahlah kepala ku, nanti Tuan Hakim pasti menemukan bahwa aku kosong dari file lainnya...", jawab otak Andi pasti.
"Bagus...!!, Kalau begitu tetaplah kau di jalur berfikir seperti ini. Artinya kau tetap Syi'ah.... Bagus..!!!", Sang Hakim lalu mengetokkan palu atas keputusan otak Andi tentang tidak mungkinnya terjadi perkawinan Incest di Zaman Nabi ADAM.

Lalu Sang Akal kembali ke posisi PENGAMAT. Sang Akal lalu mengamati otak Pak “Abdi”, yang selama ini juga diketahui sebagai seorang syi’ah yang tak kalah hebatnya.

"Hei Abdi..., menurut file otakmu ada nggak kawin incest di zaman Nabi Adam...?", selidik Sang Hakim,
"Tuan Hakim..., file saya sama dengan file yang ada di otak Pak Andi, wong saya satu guru, satu jalur, satu mahdzab. Cuma file saya ada tambahannya sedikit yaitu: jodoh putra-putra Nabi Adam as. yakni Jehana, Nazla dan Naima berwujud manusia, bukan makhluk lain, walaupun tidak berasal dari bumi. Dan juga menurut file saya tentang: Darimana kira2 ide cerita tulang rusuk tsb ya? Sama seperti cerita perkawinan incest, cerita tulang rusuk ini juga bisa didapatkan dalam Bibel...!!!", jawab otak Abdi menambahkan sedikit demi sedikit.
"Bagus...!. Jadi file kau sama dan sejenis dengan file otaknya Andi..??", Sang Hakim mengajukan pertanyaan terakhir...
"Benar Tuan Hakim..., Suueer...", jawab otak Abdi pasti.
"Oke..., kau benar-benar kembarannya Andi, bagus..bagus..!!". Sang Hakim lalu memukulkan palu keputusannya....

Lalu Sang Akal kembali ke posisi PENGAMAT. Sang Akal lalu mengamati otak Pak DIDI yang selama ini terkenal dengan kekentalannya dalam memelihara risalah Ahlussunnah. Dan terjadi pulalah persidangan sebagai berikut:
"Hei DIDI..., menurut file otakmu ada nggak kawin incest di zaman Nabi Adam...?. Menurut temanmu Andi begini..., dan Abdi begitu...?", selidik Sang Hakim sambil menyodorkan informasi diatas yang secara tak sengaja masuk ke dalam otak Pak Didi lewat sebuah diskusi via internet.
"Saya mau nanggapi saja dulu ya Tuan Hakim .... Menurut file saya uraian Pak Andi dan Pak Abdi di atas itu kok kelihatan lucu ya Tuan Hakim. Menurut file saya: kuda dan zebra yang wujudnya sama saja, tidak akan bisa menghasilkan keturunan kalau dikawinkan. Begitu juga harimau, macan kumbang, singa, cheetah belum pernah saya file untuk bisa dikawinkan satu sama lainnya, meskipun wujudnya sama. Saya lihat jawaban Pak Abdi itu sangat tidak masuk akal... ya Tuan Hakim. Masak Adam jodohnya adalah makhluk yang bukan berasal dari bumi. Jodoh Adam itu jin barangkali ya Tuan Hakim..?", sanggah otak Didi dengan agak sedikit renyah.
"Ada lagi yang ingin kau tanggapi...??", tanya Sang Akal dengan telaten.
"Ada Tuan Hakim..., saya mau kasih komentar kepada teman-teman saya yang berminat untuk kawin lagi bahwa itu tuh orang Syiah membuka lowongan untuk kawin dengan perawan dari jin. Syaratnya gampang, asal jin itu bisa berwujud manusia. Oala…, ada manusia keturunan jin, lalu ada manusia keturunan bidadari. Ada-ada saja... ya Tuan Hakim", jawab otak Didi sambil merasakan kelucuan.
"Ada lagi file mu wahai Didi...??", tanya Sang Akal dengan sangat sabar."Ada Tuan Hakim..., saya jadi ingat sayup-sayup saja tentang sebuah cerita yang memuat seorang keturunan Adam yang diberi nama “Ataqah” yang di dalam cerita itu sengaja dimatikan. Alasan dimatikannya tokoh Ataqah itu menurut saya adalah karena pengarang cerita tersebut kesulitan menemukan suaminya dari kalangan jin atau bidadara. Kesulitan kedua adalah jika pun ada tokoh hero yang akan mengawini Ataqah maka keturunannya adalah bukan disebut bani Adam, tetapi bani 'Hero' (karena susah untuk membuktikan keberadaannya). Sehingga si Ataqah dimatikan saja biar nggak ruwet-ruwet. Menurut saya alasan istri anak-anak nabi Adam tidak diciptakan dari lumpur seperti dalam cerita itu adalah karena pengarang cerita itu bermaksud untuk menunjukkan keunggulan rasnya sebagai keturunan dari ibu bidadari. Sedangkan yang lain adalah dari keturunan bangsa jin (sudah umum diketahui bangsa jin banyak yang kafir). Dan untuk urusan berbohong dan berdusta (taqiyah) ini, orang Syiah nomor wahid. Jangan-jangan cerita Pak Abdi diatas juga dalam rangka taqiyah... ini”. Balas otaknya Pak Didi nyerocos mengeluarkan informasi dari dalamnya dengan agak tersendat-sendat dan rada-rada nggak nyambung.
"Bagus…, bagus...!!. Ada lagi file andai-andaimu... wahai Didi?, Sang Hakim terus mendesak.
Kemudian terjadilah tanya jawab diatas tak henti-hentinya antara Akal Sang Hakim dengan otak Pak Didi tentang informasi baru yang coba-coba masuk ke dalam otak Didi itu. Terus begitu...!!!, sampai saatnya nanti Sang Hakim mengetokkan palu keputusannya sesuai dengan file terakhir yang ada di dalam otak Pak Didi. Semakin banyak file dan dalil-dalil yang ada di dalam otak Pak Didi ini, maka semakin lama pula pengadilan atas informasi baru itu masuk tadi antara Akal sebagai Sang Hakim di satu sisi dan otak Pak Didi sebagai wujud yang akan dihakimi di sisi lainnya.

Lalu Sang Akal kembali ke posisi PENGAMAT. Sang Akal lalu mengamati Otak Bimbi, mengamati Otak Gardu, mengamati Otak ABC, mengamati Otak Deka, Otak siapa saja….!!!. Lalu Sang Akal menjatuhkan keputusannya berdasarkan file-file kesepakatan pribadi maupun kolektif, untuk dijalankan oleh masing-masing pemilik otak itu. Kalau otak itu coba-coba pindah haluan ke file lain yang belum bisa mengalahkan file yang ada di dalamnya, maka saat itulah otak-otak itu akan menjadi sibuk membantah, menangkis, bersilat kata sana-sini. Sibuk-sibuk lagi…..!!!.

Untuk selanjutnya mari kita coba amati bagaimana AKAL SANG HAKIM mengadili otak manusia-manusia dari zaman ke zaman…

Yang tetap paling menarik untuk dicermati adalah bagaimana AKAL menghakimi logika berfikir otak-otak manusia diberbagai belahan dunia. AKAL mempunyai KEKUATAN MEMAKSA agar diri sang manusia bertindak dan berperilaku sesuai dengan file-file logika berfikir yang ada di dalam otak manusia itu sendiri. Dalam setiap peradaban, agama, maupun kesepakatan bersama antar manusia, pasti ada kesepakatan bersama bahwa mencuri, merampok, berdusta, tidak adil, menganiaya orang, adalah perbuatan-perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan negatif dan tercela. Siapa pun pasti setuju. Lalu kalau ada yang melakukan perilaku negatif itu pastilah akan diadili oleh AKAL. AKAL akan mengganggu terus atas apa-apa yang kita lakukan yang tidak sesuai dengan logika kesepakatan bersama tadi.

Misalnya lagi, tentang perseteruan antara kelompok-kelompok agama. Konon kabarnya ada aliran di dalam Syi’ah sendiri yang meyakini bahwa shalat diatas tanah atau bebatuan yang ada tanah Karbala di bawahnya adalah lebih afdal, karena di atas tanah Karbala itulah syahidnya cucu Rasulullah, Hasan dan Husein ra. Karena darah beliau berdua telah tumpah sebagai martir bagi kelompok Syi’ah. Ada logika berfikir yang setuju dengan ini, misalnya di Irak dan di Iran sana (walau tidak semua). Akan tetapi logika berfikir ini salah kalau dilihat dari kacamata, misalnya, Wahabi di Arab Saudi sana.

Mungkin belum banyak yang tahu juga bahwa pada zaman abad pertengahan, saat ajaran-ajaran sufi dengan gencar tersebar ke seluruh penjuru dunia, untuk memudahkan mendapatkan ekstasis dan mi’rajnya jiwa, terbang menuju tak berhingga, maka tidak jarang para kaum sufi itu mengisap HASYIS (sebangsa opium) dulu. Hasyis memberikan efek pelereman fikiran, sehingga memudahkan kaum sufi untuk larut dalam dzikir mereka. Itulah sebabnya di di wilayah-wilayah yang ajaran sufinya sangat kental sering didapati ganja, opium, misalnya di wilayah Aceh dan Afghanistan. Akan tetapi dalam logika berfikir peradaban sekarang, hasyis, ganja, opium ini dianggap sebagai zat yang sangat terlarang.

Belum lagi kalau kita masuk kewilayah FIKIH. Logika berfikir fikih yang satu bisa bertolak belakang dengan logika fikih yang lainnya, padahal yang akan dihukumi adalah sesuatu yang menentukan diterima atau tidaknya sebuah perilaku ibadah, misalnya : yang akan membatalkan shalat atau membatalkan agama. Dari perbedaan logika berfikir wilayah fikih ini, maka lahirlah fikih paling tidak ala Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Maliki. Belum lagi kalau ditambahkan menurut logika berfikir ala Imam Syi’ah. Karena pada saat-saat awal Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh orang-orang yang menganut fikih Imam Syafi’i, maka jadilah orang Indonesia bermahdzab Syafi’i. Lalu ada juga yang tidak cocok dengan ini, karena mereka menganggap ada yang lebih baik, maka mereka memilih mahzab yang lainnya.

Demikianlah terus … !!!. Perkembangan peradaban manusia memang punya kecenderungan untuk menjadi LIAR. Tidak itu saja, untuk berketuhanan saja manusia-manusia cenderung menjadi liar. Yang bukan Tuhan saja dihormati sebagaimana layaknya penghormatan kepada Tuhan. Dalam berpolitik, dalam berbudaya pun kita cenderung menjadi liar. Sungguh Tuhan sangat penyayang kepada kita. Dia masih memberikan petunjuk-Nya melalui Al Qur’an agar semua tidak menjadi liar. Maka ikutilah Al Qur’an. Hanya dengan mengikuti Al Qur’an lah kita akan berperilaku sama dengan perilaku (Sunnah) Rasulullah SAW.

Demikian.
Selesai



Artikel Akal Sang Hakim untuk milis Dzikrullah & PatrapNet
Wassalam
Deka

Kotasantri.com

Tidak ada komentar: